Selasa, 10 Desember 2013

Turing Kecil-kecilan : Curug Cigentis, Karawang

Sabtu, 16 Februari 2013.

Karawang. Kota yang tidak jauh dari Jakarta. Kota ini kami pilih untuk mengisi libur akhir pekan ini. Ada beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi disana, baik wisata pantai, gunung, maupun wisata sejarah. Pantai yang ada di Karawang diantaranya Tanjung Pakis, Pisangan, dan Tanjung Baru, sedangkan wisata pegunungan kita bisa mengunjungi objek wisata air terjun (curug), antara lain Curug Cigentis, Curug Santri, dll. Beberapa waktu lalu kami pernah mengunjungi Pantai Tanjung Pakis di pantai utara Karawang, kali ini kami ingin mengunjungi Curug Cigentis di ujung selatan Karawang. Curug Cigentis terletak di Desa Mekarbuana, Kecamatan Pangkalan, Karawang.

Pagi jam 07.00 saya mendapat kabar bahwa Joko Try Saputro sedang bersiap berangkat, tapi sebelum menuju tempat saya yang menjadi meeting point 1, dia harus menjemput pujaan hati nya, Arli Ramdan. Arli minta dijemput di tempat biasa dia mangkal, yaitu di Terminal Kayuringin. Ini berarti mereka baru akan sampai tempat saya 1 jam lagi. Agak telat memang, mengingat pesan saya ke mereka adalah harus sampai tempat saya jam 06.30. Hehe.

Turing kali ini merupakan One Day Trip, ini mengingat jarak tempuh yang tidak begitu jauh, hanya kurang lebih 75km. Rinciannya Bekasi-Karawang Kota 30km, dan Karawang Kota-Pangkalan 45km. Total, dengan mempertimbangkan medan yang dilalui, kami akan menempuh perjalanan paling lama 2,5jam.

Jam 8 akhirnya Joko dan Arli beserta Yamaha Bysonnya sampai di tempat saya. Tanpa menunggu lama, saya pun segera menyalakan motor, mengepak tas, memakai perlengkapan (sepatu, sarung tangan, jaket, dan helm), berdoa sebentar, kemudian berangkat melalui Jalan Bypass Bekasi-Karawang.

Lalu lintas Jalan Teuku Umar, Tambun, pagi itu sudah cukup ramai. Sepeda motor dan angkutan kota mendominasi. Di beberapa titik jalan antara Cibitung dan Cikarang laju kendaraan sedikit tersendat baik oleh simpangan jalan, putaran, maupun jalan rusak. Titik terparah adalah depan SPBU di Jalan Imam Bonjol, Cikarang Barat, jalanan yang rusak menimbulkan antrian cukup panjang.

Melalui jalur lingkar antara Terminal Cikarang ke Lemah Abang, lalu lintas ramai lancar, tidak ada hambatan berarti dijalur ini kecuali melewati persimpangan kereta. Ketika kami sampai, palang pintu baru saja tertutup, beberapa pengendara motor memilih menerobos palang pintu meski telah tertutup tanpa mau menunggu yang mungkin paling lama hanya 3-4 menit. Mungkin pikirnya, waktu adalah uang, nyawa nomor sekian. Hoho.

Maut? Apaan tuh?
Maut? Apaan tuh?

Selanjutnya, Jalan Bypass Cikarang-Karawang kami lalui dengan lancar meski terdapat beberapa titik jalan berlubang. Memasuki Kota Karawang, kami berbelok ke arah Jalan Interchange untuk menuju meeting point 2 di KPP Karawang Selatan menemui Bambang Wahyudi.

Jam menunjuk 09.00 ketika kami sampai, tapi Bambang ternyata masih memotong rumput halaman kantor. Jadi kami terpaksa harus menunggu nya sampai selesai. Bambang sudah bekerja di kantor tersebut selama 3 tahun. Dia anak yang rajin. Meski tidak begitu pandai, tapi Bambang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Di waktu senggang, dia tak segan-segan membantu orang lain. Belakangan kami tau, untuk menambah pendapatannya, dia ternyata juga bekerja sebagai stuntman di sebuah production house di ibukota.

Balik ke topik, setelah Bambang siap, kami segera melanjutkan perjalanan. Sebagai penghormatan, kami tunjuk Bambang sebagai leader hingga sampai tujuan. Dari KPP Karawang Selatan, kami menyusuri Jalan Interchange ke arah gerbang tol Karawang Barat. Sebelum jembatan ke arah gerbang tol, kami belok kanan menyusuri kali (apa namanya ya?) melalui jalan raya ke arah Pangkalan. Jalanan ini 90% merupakan jalanan beton cor, hanya sebagian kecil jalan yang berupa aspal.

Menyusuri Jalan Raya Pangkalan, pemandangan kiri kanan jalan sudah mulai dipenuhi dengan areal persawahan yang hijau. Background yang berupa pegunungan membuat kami makin bersemangat melalui jalan ini. Jalur lalu lintas relatif masih sepi, meski begitu kami harus tetap waspada karena masih banyak kendaraan besar berupa truk pengangkut material yang melintasi jalan ini. Pada beberapa tikungan jalan terdapat jalanan berpasir dan lubang.


Areal persawahan di sepanjang Jalan raya Pangkalan
Areal persawahan di sepanjang Jalan raya Pangkalan
Pegunungan Sanggabuana
Pegunungan Sanggabuana

Setelah berkendara kurang lebih 1,5jam sejak meeting point 2 atau pukul 10.30, kami sampai di Desa Mekarbuana, terdapat gerbang masuk kampung wisata cigentis. Disini kami harus membayar retribusi, jumlah yang harus dibayar saya kurang tau, Bambang yang bayarin. Dari gerbang masuk tersebut, jarak Curug Cigentis masih sekitar 3km. Jalanan masih berupa beton cor sampai kurang lebih 2km, sisanya jalanan yang berupa batu-batuan dan tanah yang sangat-sangat rusak. Ditambah dengan tanjakan yang cukup curam akhirnya membuat saya memilih memarkir motor saya ditempat warga, dan melanjutkan dengan membonceng Bambang.

Membonceng Bambang ternyata bukan perkara yang mudah. Naluri stuntman nya membuat dia selalu memilih jalan yang paling rusak dari pada yang lain. Bahkan disebuah tanjakan, kami hampir terjungkal. Tapi namanya stuntman, Bambang malah tertawa terpingkal-pingkal.

Membonceng stuntman
Membonceng stuntman

Selain curug cigentis, dihilir juga terdapat beberapa objek wisata berupa waterpark dan kampung wisata Cigentis, selain itu juga terdapat Curug Bandung Batu Tumpang. Memasuki titik parkiran terakhir, kami harus berjalan kaki menuju lokasi curug, jaraknya kurang lebih 300m. Tiket masuk kawasan ini Rp8.000 per orang. Kesan pertama masuk ke kawasan curug ini adalah bahwa tempat ini sangat sepi. terdapat banyak tenda para penjual makanan dan minuman yang kosong. Hanya satu-dua penjual yang mulai buka. Saya datangi salah satu warung, saya beli 1 botol air mineral 600ml, harga nya Rp5.000.



Kesan kedua adalah kawasan ini kurang tertata dengan baik, terutama para pedagang, mereka membuat warung bahkan hingga sampai dipinggir aliran air dari curug. Warung-warung ini dibangun hingga menutupi pemandangan aliran air. Saking penuhnya, bahkan susah ditemui tempat lapang untuk sekedar menggelar tikar bagi para wisatawan yang membawa keluarga/rombongan.


Aliran air dari curug
Aliran air dari curug

Melewati semrawutnya penataan kawasan, kami terus mendaki hingga terlihatlah air terjun setinggi 25m mengalir deras dihadapan kami. Meski tidak sebesar Curug Malela di Bandung Barat, tapi Curug Cigentis lebih tinggi dan air nya lebih jernih. Kami tak ragu untuk berendam disana.

Curug Cigentis, rasakan sensasi dinginnya
Curug Cigentis, rasakan sensasi dinginnya

Kawasan curug cigentis dikelilingi oleh hutan yang cukup lebat. Masih sangat alami. Lokasi Curug ini berada di Kaki Gunung Sanggabuana yang merupakan perbatasan Karawang dengan Bogor dan Cianjur.

Curug ini menjadi sumber bagi warga Desa Mekarbuana untuk mengairi sawah nya. Keberadaan curug yang meskipun desa ini jauh dari kota juga bisa mendatangkan penghasilan bagi warga nya dengan berjualan makanan/minuman, menyediakan parkir, dan lainnya untuk wisatawan. Sampai saat ini kawasan wisata ini pun masih dikelola oleh penduduk setempat melalui Karang Taruna. Mudah-mudahan nanti Pemerintah setempat dapat mengembangkan kawasan ini menjadi wisata unggulan sehingga akses jalan bisa semakin bagus mengingat lokasi yang tidak jauh dari Jakarta merupakan potensi tersendiri.

Kami dikawasan tersebut hingga jam 2 siang, sebelum pulang, kami sempat mampir di Rumah Makan sekaligus kolam renang di desa tersebut. Jam 5 sore kami sudah di Kota Karawang, disini kami berpisah dengan Bambang dan Arli, selanjutnya, saya dan Joko melanjutkan perjalanan ke Bekasi.

Yang sebelah kanan itu OC dan OB
Yang sebelah kanan itu OC dan OB

In Memoriam : HP nya Arli, ilang di bis waktu perjalanan pulang ke Bandung.

Penulis : Nanang Indriyono
Sumber :https://www.facebook.com/notes/nanang-indriyono/turing-kecil-kecilan-curug-cigentis-karawang/10152624911145157

Tidak ada komentar:

Posting Komentar