Selasa, 10 Desember 2013



TOUR DE BANDUNG SELATAN 29 – 30 DESEMBER 2012

Walaupun sedikit basi, namun setelah proses penjemuran dan penggorengan akhirnya catatan perjalanan Tour de Bandung Selatan rampung dan bisa kita nikmati bersama. Semoga bermanfaat bagi pembaca semuanya, selamat menikmati.
Berawal dari tertundanya pendjelajahan tour de jawa-bali, sehingga mengharuskan ane pulang ke Bandung lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.Tadinya saya mau langsung bekerja kembali di ladang,  berhubung permohonan cuti terlanjur disetujui, alhasil cuti tersebut saya manfaatkan dengan hibernasi layak nya beruang kutub melewati musim dingin, guna mengembalikan kondisi fisik dan stamina.
Dua hari masa hibernasi dilalui, badanpun terasa bugar dan segar. Terdengar dari kejauhan sayup-sayup hitamnya aspal memanggil dan raungan mesin berbisik mengajak kembali berkelana. Tanpa menunggu lama segera ane ambil handphone, langsung berkoordinasi dengan para hulubalang negeri cah kangkung untuk menayakan adakah rencana untuk kembali mencari kitab di penghujung tahun naga ini. Gayung bersambut, alhamdulillah para hulubalang berencana untuk mencari kitab ke daerah bandung selatan. Berhubung posisi sudah ada di Bandung, jadi kita sepakat untuk regroup di daerah Soreang.
Sabtu tanggal 29 Desember 2012 Pukul 09.00 ane berangkat dari rumah yang berlokasi di margahayu raya, dengan perkiraan brow nanang dan brow jopir tiba di Soreang sekitar pukul 10.00 atau 11.00, karena mereka berangkat dari Bekasi jam 07.00. Tiba di Soreang pukul 10.20, namun di TKP belum ada siapa-siapa, ternyata mereka baru nyampe Kantor Bandung Barat untuk istirahat sekalian sarapan dan makan siang di rapel. Pukul 12.15 kita baru bisa regroup di Soreang.
Tak menunggu lama, pukul 12.30 kita langsung gas ke ciwidey, tujuan kita adalah Situ Patengan. Jalur Soreang – Ciwidey tak kalah menarik dengan jalur-jalur yang pernah kita lewati, jalanan yang berkelok, turun-naik dan hijau nya perkebunan teh, sangat memanjakan mata. Kondisi jalan pun bagus dan mulus, walaupun long week end namun tidak seperti biasanya jalanan tidak begitu padat malah cenderung lenggang.
Pukul 13.20 touchdown di Situ Patengan, setelah melewati gerbang dan membayar retribusi langsung kita menikmati keindahan alam Situ Patengan. Entah untuk keberapa kali saya mengunjungi tempat wisata ini, tak ada yang banyak berubah masih tetap ramai seperti biasa. Menelisik setiap sudut situ dan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Lokasi situ yang berada di antara bukit, perkebunan teh, hutan pinus, dan beberapa vegetasi khas daerah tropis serta dihiasi cahaya matahari yang malu-malu bersembunyi di balik awan sehingga menghasilkan gradasi warna yang sangat indah sekali. Apalagi tak lama kemudian kami diselimuti kabut yang cukup pekat, sehingga suasananya seperti berada di Danau Lochness. Kabut hilang berganti rintik hujan menyapa kami, segera mencari tempat berteduh agar terlindung dari hujan dan udara dingin yang mulai menghigapi.


Cukup lama kami berada di Situ Patengan, setelah hujan berhenti dan hari pun telah senja, pukul 15.30 kami memutuskan untuk bergerak pulang. Terlena menikmati keindahan Situ Patengan, sampai lupa untuk mengisi perut. Mampir lah kami di salah satu tempat makan yang ada di ciwidey, yaitu Rumah Makan Saung Maritim. Menu yang ditawarkan sangat beragam, setalah penuh pertimbangan ahir nya menu yang dipilih adalah, ayam bakar madu, sate kambing, gule kambing, susu soda, teh botol dan teh manis hangat, yummy. 

Pukul 18.10 kami bergerak kembali,namun mengingat hari sudah larut, letihnya badan, dan kusutnya muka kami membatalkan rencana untuk menelisik suasana eksotisme kota Bandung di malam hari, kiita putuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah. Pukul 20.30 tiba di rumah, ta banyak aktifitas yang dilakukan bersih-bersih badan, beresin bawaan, dan menonton pertandingan bola sampai kantuk datang, mengingat esok hari masih ada perjalanan yang akan ditempuh, yaitu Curug Malela yang berada di Kelurahan Rongga Keamatan gunung Halu Kab, Bandung Barat.
 Minggu tanggal 30 Desember 2013 jam menunjukan pukul 08.05, setelah mandi, packing dan sarapan kami pun berangkat. Sebenernya kami berencana berangkat pukul 07.00 tapi karena satu dan lain hal kita bru bisa berangkat pkul 08.05. Padatnya kawasan Metro oleh lalu-lalang manusia baik itu yag sedang melakukan tindakan ekonomi ataupun hanya sekedar menikmati hangatnya sinar matahari pagi sambil menikmati kuliner yang tersaji, membuat waktu tempuh rumah – Soekarno Hatta terasa lama sekali. 

Diantara kami tidak ada yang tahu jalur menuju Curug Malela, beruntung Mbah Google selalu siap sedia memberikan informasi yang kami butuhkan. Kami memutuskan untuk melalui jalur Soekarno Hatta – Cimahi – Cimareme – Batujajar – Cililin – Gunung Halu – Curug Malela. Kondisi jalanan Soekarno Hatta – Cimareme ramai lancar, namun jalanan sedikit macet ketika kita sampai di Pasar Batujajar. Pertigaan Pasar Batujajar memang selalu macet dikarenakan jalan yang kurang lebar, banyak angkot ngetem, Bis ¾ yang melambat menurun-naikan penumpang, ditambah Delman yang lalu lalang. Track Batujajar – Gunung Halu lumayan seru, jalanan cukup bagus, kelokan ny pun sedap, namun ketika ketika melewati kebun teh jalanan menjadi kurang bersahabat.
Setelah cukup lama kami melewati perkebunan teh dan lereng perbukitan akhirnya kita sampai di pangkalan ojeg yg disebutkan di salah satu blog yang kami jadikan acuan (maap tidak disebutkan nama blognya, lupa), pertanda kami on the right track. Track dari pangkalan ojeg menuju Curug Malela lumayan memicu adrenalin dan mengasah skill, jalanan berbatu, berkelak-kelok, naik – turun, kubangan lumpur yang cukup dalam sisa hujan semalam membuat kita hanya bisa mengelus dada dan berharap tunggangan kami sehat walafiat. Mengutip kata bijak pa sutan batugana untuk menggambarkan kondisi track yang kami lewati “ngeri-ngeri sedap”. Tak cukup disitu, turunan tanah merah yang cukup curam menuju tempat parkir menjadi penutup wahana adrenalin di hari ini.



Kira-kira pukul 11.20 kami tiba di Curug Malela. Kami kira kesenian pencak silat yang diiringi musik khas Jawa Barat digelar untuk menyambut kedatangan kami, ternyata itu dalam rangka menyambut kedatangan Bupati Bandung Barat yang akan mengadakan kunjungan ke Curug Malela. Semoga dengan kedatangan Pejabat setempat membuat sarana prasarana dan kondisi jalan menuju Curug Malela semakin bagus, sehingga semakin banyak pengunjung yang diharapkan menggeliatnya perekonomian di Gunung Halu dan sekitarnya. Dari kejauhan sudah mulai terlihat penampakan Curug Malela yang dikenal sebagai Little Niagara.
Tidak lama kami menikmati segarnya riak air Curug Malela, dikarenakan hujan mulai turun. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kami memutuskan untuk naik dan berteduh di salah satu rumah kayu yang ada di TKP. Menanti hujan reda, pikiran kami menerawang bagaimana kami melewati turunan jalan merah menuju parkiran, yang sekarang menjadi tanjakan yang pasti susah dilewati dikarenakan air hujan yang membuat tanah merah tersebut menjadi lumpur yang licin.


Add caption



Pukul 13.25 hujan berhenti, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Alhamdulillah atas bantuan beberapa penduduk setempat tunggangan kami bisa melewati tanjakan yang licin dengan aman sentosa. Tidak lupa kami mampir di warung nasi yang terlewati untuk memberikan asupan gizi bagi tubuh kami supaya tetap fit selama berpetualang. Tak ada yang special selama perjalanan pulang. Pukul 17.05 kami tiba di pertigaan Cimareme, kami berpisah mengambil jalan hidup masing-masing, bro jopir dan bro nanang meneruskan kembali perjalanan ke barat menuju bekasi sedangkan saya ke timur menuju rumah. Tercatat pukul 18.30  touchdown di rumah dengan kondisi letih dan penuh lempur namun hati senang.

Sekian terima kasih. Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Sekapur Sirih
Secara garis besar penjelajahan kali ini aman, lancar sentosa tidak ada hambatan yang berarti. Berhubung catatan perjalanan ini ditulis jauh setelah selesainya petualangan, sehingga review waktu tempuh, jarak tempuh dan biaya yang telah dikeluarkan tidak bisa saya sajikan.

Bagi pembaca yang berencana untuk mengunjungi Curug Malela sekarang ini, saya sarankan untuk difikirkan kembali, karena kondisi jalanan nya belum membaik (info dari um andri yang mencoba mencicipi track Malela kalau ga salah di bulan november 2013) apalagi sekarang sedang musim hujan. Tapi kalau merasa tertantang dengan kondisi yang demikian silahkan, mungkin sensasinya akan lebih terasa ketika curah hujan cukup tinggi. 

Turing Kecil-kecilan : Curug Cigentis, Karawang

Sabtu, 16 Februari 2013.

Karawang. Kota yang tidak jauh dari Jakarta. Kota ini kami pilih untuk mengisi libur akhir pekan ini. Ada beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi disana, baik wisata pantai, gunung, maupun wisata sejarah. Pantai yang ada di Karawang diantaranya Tanjung Pakis, Pisangan, dan Tanjung Baru, sedangkan wisata pegunungan kita bisa mengunjungi objek wisata air terjun (curug), antara lain Curug Cigentis, Curug Santri, dll. Beberapa waktu lalu kami pernah mengunjungi Pantai Tanjung Pakis di pantai utara Karawang, kali ini kami ingin mengunjungi Curug Cigentis di ujung selatan Karawang. Curug Cigentis terletak di Desa Mekarbuana, Kecamatan Pangkalan, Karawang.

Pagi jam 07.00 saya mendapat kabar bahwa Joko Try Saputro sedang bersiap berangkat, tapi sebelum menuju tempat saya yang menjadi meeting point 1, dia harus menjemput pujaan hati nya, Arli Ramdan. Arli minta dijemput di tempat biasa dia mangkal, yaitu di Terminal Kayuringin. Ini berarti mereka baru akan sampai tempat saya 1 jam lagi. Agak telat memang, mengingat pesan saya ke mereka adalah harus sampai tempat saya jam 06.30. Hehe.

Turing kali ini merupakan One Day Trip, ini mengingat jarak tempuh yang tidak begitu jauh, hanya kurang lebih 75km. Rinciannya Bekasi-Karawang Kota 30km, dan Karawang Kota-Pangkalan 45km. Total, dengan mempertimbangkan medan yang dilalui, kami akan menempuh perjalanan paling lama 2,5jam.

Jam 8 akhirnya Joko dan Arli beserta Yamaha Bysonnya sampai di tempat saya. Tanpa menunggu lama, saya pun segera menyalakan motor, mengepak tas, memakai perlengkapan (sepatu, sarung tangan, jaket, dan helm), berdoa sebentar, kemudian berangkat melalui Jalan Bypass Bekasi-Karawang.

Lalu lintas Jalan Teuku Umar, Tambun, pagi itu sudah cukup ramai. Sepeda motor dan angkutan kota mendominasi. Di beberapa titik jalan antara Cibitung dan Cikarang laju kendaraan sedikit tersendat baik oleh simpangan jalan, putaran, maupun jalan rusak. Titik terparah adalah depan SPBU di Jalan Imam Bonjol, Cikarang Barat, jalanan yang rusak menimbulkan antrian cukup panjang.

Melalui jalur lingkar antara Terminal Cikarang ke Lemah Abang, lalu lintas ramai lancar, tidak ada hambatan berarti dijalur ini kecuali melewati persimpangan kereta. Ketika kami sampai, palang pintu baru saja tertutup, beberapa pengendara motor memilih menerobos palang pintu meski telah tertutup tanpa mau menunggu yang mungkin paling lama hanya 3-4 menit. Mungkin pikirnya, waktu adalah uang, nyawa nomor sekian. Hoho.

Maut? Apaan tuh?
Maut? Apaan tuh?

Selanjutnya, Jalan Bypass Cikarang-Karawang kami lalui dengan lancar meski terdapat beberapa titik jalan berlubang. Memasuki Kota Karawang, kami berbelok ke arah Jalan Interchange untuk menuju meeting point 2 di KPP Karawang Selatan menemui Bambang Wahyudi.

Jam menunjuk 09.00 ketika kami sampai, tapi Bambang ternyata masih memotong rumput halaman kantor. Jadi kami terpaksa harus menunggu nya sampai selesai. Bambang sudah bekerja di kantor tersebut selama 3 tahun. Dia anak yang rajin. Meski tidak begitu pandai, tapi Bambang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Di waktu senggang, dia tak segan-segan membantu orang lain. Belakangan kami tau, untuk menambah pendapatannya, dia ternyata juga bekerja sebagai stuntman di sebuah production house di ibukota.

Balik ke topik, setelah Bambang siap, kami segera melanjutkan perjalanan. Sebagai penghormatan, kami tunjuk Bambang sebagai leader hingga sampai tujuan. Dari KPP Karawang Selatan, kami menyusuri Jalan Interchange ke arah gerbang tol Karawang Barat. Sebelum jembatan ke arah gerbang tol, kami belok kanan menyusuri kali (apa namanya ya?) melalui jalan raya ke arah Pangkalan. Jalanan ini 90% merupakan jalanan beton cor, hanya sebagian kecil jalan yang berupa aspal.

Menyusuri Jalan Raya Pangkalan, pemandangan kiri kanan jalan sudah mulai dipenuhi dengan areal persawahan yang hijau. Background yang berupa pegunungan membuat kami makin bersemangat melalui jalan ini. Jalur lalu lintas relatif masih sepi, meski begitu kami harus tetap waspada karena masih banyak kendaraan besar berupa truk pengangkut material yang melintasi jalan ini. Pada beberapa tikungan jalan terdapat jalanan berpasir dan lubang.


Areal persawahan di sepanjang Jalan raya Pangkalan
Areal persawahan di sepanjang Jalan raya Pangkalan
Pegunungan Sanggabuana
Pegunungan Sanggabuana

Setelah berkendara kurang lebih 1,5jam sejak meeting point 2 atau pukul 10.30, kami sampai di Desa Mekarbuana, terdapat gerbang masuk kampung wisata cigentis. Disini kami harus membayar retribusi, jumlah yang harus dibayar saya kurang tau, Bambang yang bayarin. Dari gerbang masuk tersebut, jarak Curug Cigentis masih sekitar 3km. Jalanan masih berupa beton cor sampai kurang lebih 2km, sisanya jalanan yang berupa batu-batuan dan tanah yang sangat-sangat rusak. Ditambah dengan tanjakan yang cukup curam akhirnya membuat saya memilih memarkir motor saya ditempat warga, dan melanjutkan dengan membonceng Bambang.

Membonceng Bambang ternyata bukan perkara yang mudah. Naluri stuntman nya membuat dia selalu memilih jalan yang paling rusak dari pada yang lain. Bahkan disebuah tanjakan, kami hampir terjungkal. Tapi namanya stuntman, Bambang malah tertawa terpingkal-pingkal.

Membonceng stuntman
Membonceng stuntman

Selain curug cigentis, dihilir juga terdapat beberapa objek wisata berupa waterpark dan kampung wisata Cigentis, selain itu juga terdapat Curug Bandung Batu Tumpang. Memasuki titik parkiran terakhir, kami harus berjalan kaki menuju lokasi curug, jaraknya kurang lebih 300m. Tiket masuk kawasan ini Rp8.000 per orang. Kesan pertama masuk ke kawasan curug ini adalah bahwa tempat ini sangat sepi. terdapat banyak tenda para penjual makanan dan minuman yang kosong. Hanya satu-dua penjual yang mulai buka. Saya datangi salah satu warung, saya beli 1 botol air mineral 600ml, harga nya Rp5.000.



Kesan kedua adalah kawasan ini kurang tertata dengan baik, terutama para pedagang, mereka membuat warung bahkan hingga sampai dipinggir aliran air dari curug. Warung-warung ini dibangun hingga menutupi pemandangan aliran air. Saking penuhnya, bahkan susah ditemui tempat lapang untuk sekedar menggelar tikar bagi para wisatawan yang membawa keluarga/rombongan.


Aliran air dari curug
Aliran air dari curug

Melewati semrawutnya penataan kawasan, kami terus mendaki hingga terlihatlah air terjun setinggi 25m mengalir deras dihadapan kami. Meski tidak sebesar Curug Malela di Bandung Barat, tapi Curug Cigentis lebih tinggi dan air nya lebih jernih. Kami tak ragu untuk berendam disana.

Curug Cigentis, rasakan sensasi dinginnya
Curug Cigentis, rasakan sensasi dinginnya

Kawasan curug cigentis dikelilingi oleh hutan yang cukup lebat. Masih sangat alami. Lokasi Curug ini berada di Kaki Gunung Sanggabuana yang merupakan perbatasan Karawang dengan Bogor dan Cianjur.

Curug ini menjadi sumber bagi warga Desa Mekarbuana untuk mengairi sawah nya. Keberadaan curug yang meskipun desa ini jauh dari kota juga bisa mendatangkan penghasilan bagi warga nya dengan berjualan makanan/minuman, menyediakan parkir, dan lainnya untuk wisatawan. Sampai saat ini kawasan wisata ini pun masih dikelola oleh penduduk setempat melalui Karang Taruna. Mudah-mudahan nanti Pemerintah setempat dapat mengembangkan kawasan ini menjadi wisata unggulan sehingga akses jalan bisa semakin bagus mengingat lokasi yang tidak jauh dari Jakarta merupakan potensi tersendiri.

Kami dikawasan tersebut hingga jam 2 siang, sebelum pulang, kami sempat mampir di Rumah Makan sekaligus kolam renang di desa tersebut. Jam 5 sore kami sudah di Kota Karawang, disini kami berpisah dengan Bambang dan Arli, selanjutnya, saya dan Joko melanjutkan perjalanan ke Bekasi.

Yang sebelah kanan itu OC dan OB
Yang sebelah kanan itu OC dan OB

In Memoriam : HP nya Arli, ilang di bis waktu perjalanan pulang ke Bandung.

Penulis : Nanang Indriyono
Sumber :https://www.facebook.com/notes/nanang-indriyono/turing-kecil-kecilan-curug-cigentis-karawang/10152624911145157

Berbagi Cerita Perjalanan ke Sawarna


          Entah siapa yang memulai, pagi itu kalender menunjukkan bahwa hari itu adalah Sabtu 21 Januari 2012. Ketika sadar, saya ternyata telah berkumpul bersama Bambang Wahyudi, Yuliyanti Christine, dan Arli Ramdan untuk sarapan. Hari itu masih pagi, jam 06.30, dan kami harus segera berangkat untuk kembali berkumpul di rumah Joko Try Saputro maksimal jam 07.00, meskipun kami ragu dia sudah bangun ketika kami sampai kesana.

          Melewati jalur Grand Wisata-Grand Residence, jalanan sudah terlihat cukup ramai, dengan aspal dan jalan cor yang kurang mulus, kami menempuh jalur ini selama kurang lebih 30 menit, catatan waktu yang jauh tertinggal dengan catatan waktu sang pengembang perumahan Grand Residence dimana dia bisa menempuh dalam waktu 10 menit seperti yang dipamerkan pada papan iklan.

          Setelah semua persiapan selesai,07.30 kami berangkat dari Grand Residence bersama cuaca yang cerah menyusuri jalur Setu-Cileungsi. Jalanan yang masih relatif sepi dan aspal yang cukup mulus membuat kami dapat melaju cukup kencang. Jalur berikutnya yang kami lalui adalah Cileungsi-Gunung Putri-Citeureup-Cibinong-Bogor. Sebenarnya kami bisa melewati jalur Babakan Madang-Sentul tanpa lewat pasar Cibinong yang super ruwet, tapi karena leader udah terlanjur belok kanan arah Cibinong, maka kami pun harus mengikuti.

          Cuaca agak mendung ketika kami sampai di Cibinong, lalu lintas juga cukup padat membuat kami sering terpisah dari rombongan. Selepas kemacetan, kami regrouping kembali, cuman disini ternyata Bambang Wahyudi tidak kunjung terlihat, setelah menunggu 10 menit kami mendapat kabar ternyata dia ditilang polisi karena menerobos lampu merah. 50 ribu pun dia sumbangkan kepada polisi untuk ongkos pulang setelah bertugas sekaligus untuk ongkos beli peta, agar dia tau bahwa Takengon adalah nama kota di Aceh, bukan di Kalimantan Barat. Kami pun melanjutkan perjalanan.

          Memasuki Bogor, 09.30 hujan mulai turun, kami berhenti untuk memakai perlengkapan hujan, sepatu ganti sandal, sarung tangan off, jas hujan on, sarung hujan buat tas on. Perjalanan langsung dilanjutkan menyusuri kota Bogor menuju jalan raya Sukabumi. Selanjutnya kami menempuh jalur jalan raya Sukabumi arah Cicurug kemudian Cibadak. Jalur ini lalu lintas di dominasi oleh truk mulai dari kecil maupun besar serta angkutan umum, sehingga meskipun jalanan mulus tetap disarankan untuk menjaga konsentrasi dan mengontrol kecepatan. Sampai Cibadak 11.00 dan cuaca sudah kembali cerah. Kembali kami rehat untuk melepas perlengkapan hujan dan mengetap oli badan.

         11.30 perjalanan kembali dilanjutkan. Rute yang akan ditempuh selanjutnya adalah Cibadak-Warungkiara-Pelabuhan Ratu. Estimasi waktu tempuh jalur ini adalah 1,5-2 jam. Jalanan jalur ini berbeda dengan jalur sebelumnya, dimana jalanan lebih sempit dan tidak terlalu mulus, berkelok-kelok, banyak tanjakan dan turunan. Alhamdulillah kami melewati jalur ini dalam kondisi cuaca yang cerah karena apabila hujan maka jalanan yang basah akan semakin memperlambat perjalanan kami.

          Waktu menunjuk jam 13.00 ketika kami mulai masuk Pelabuhan Ratu, sadar sudah waktu nya makan siang, kami mencari-cari warung makan. Selanjutnya kami menemukan Warung Sate Barokah 2 disebelah kiri jalan. Motor pun kita parkirkan.

          Menu makan siang hari itu untuk berlima adalah Sate Ayam 20 tusuk, Sate Kambing 20 Tusuk, 1 Sop Kambing, 2 Es Jeruk, 1 Teh Manis Panas, 1 Es Teh Manis, dan 1 Air Comberan buat Bambang . Biaya total makan siang saya kurang tau (berapa Ai?), tapi sekaligus untuk iuran awal dana umat, maka masing-masing dari kami iuran 50ribu. Melalui perundingan yang cukup alot, maka Warung Sate Barokah 2 menjadi saksi penunjukan Ai sebagai bendahara perjalanan ini.



         Kurang lebih satu jam kami menghabiskan waktu untuk makan, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Cuaca masih cerah. Jalur berikut yang akan dilalui adalah Pelabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna. Waktu tempuh diperkirakan 1-1,5jam. Jalur ini dilalui dengan menyusuri pesisir pantai, sepanjang jalan kami dapat melihat pemandangan yang sangat indah, terutama pada saat kami menanjak hingga puncak bukit kami dapat melihat pantai dari atas. Subhanalloh banget dah.

         Jalur Pelabuhan Ratu-Cisolok benar-benar membuat kami terlena seperti Ikke Nurjanah. Pemandangan yang bagus, jalanan berkelok-kelok, tanjakan tinggi dan turunan yang dalam membius setiap orang yang melewati nya. Hingga pada suatu turunan panjang berkelok-kelok, sdr Bambang Wahyudi yang diboncengi Yuliyanti Christine tidak dapat mengendalikan laju motornya meski sudah memakai ban Swallow yang cengkeramannya terkenal kuat. Insiden tak terelakkan. Saya yang berada jauh dibelakang mendapati mereka sudah terkapar dipinggir jalan. Kaget. Tapi Alhamdulillah tidak ada cedera serius, hanya memar dan lecet di kaki saja. Bahkan saat saya menghampiri, mereka sedang tertawa-tawa.



          Sesaat setelah kejadian, ada rombongan biker dari Cianjur, sekitar 15-20 motor mungkin, ramai sekali. Mereka berhenti menghampiri dan menanyakan kondisi kami. Dirasa tidak ada yang serius dan masih bisa ditangani sendiri, kami mengucapkan terima kasih dan mempersilakan mereka melanjutkan perjalanan. Sekali lagi terima kasih buat rombongan biker Cianjur, ditempat yang jauh dari rumah dan tidak ada siapa-siapa, kami seperti punya banyak saudara.

          Kejutan belum berhenti, sesaat setelah rombongan biker Cianjur berlalu, ada seorang touring biker Bajaj Fulsar terperosok pula ditempat yang sama, saya, Joko, dan Ai berlarian menolongnya, motor diberdirikan, biker terlihat masih shock. Beberapa saat setelah memulihkan kesadaraan, dia pun melanjutkan perjalanan.

          Motor Mega Pro Bambang kami periksa, setang bengkok, bensin terlihat menetes, untunglah tidak jauh dari TKP ada bengkel motor. Dan ternyata, di bengkel tersebut juga sedang ada motor yang diperbaiki karena mengalami insiden di tempat yang sama. Warga sekitar mengatakan, ditempat itu kecelakaan sering sekali terjadi, bahkan sehari sebelumnya ada mobil box yang kecelakaan dan sampai memakan korban jiwa. Merinding mendengarnya seraya bersyukur tidak ada sesuatu yang buruk menimpa kami.

          17.00 motor Bambang selesai diperbaiki, setelah dicoba berkali-kali motor pun siap. Kami melanjutkan perjalanan yang tinggal 30-45 menit lagi dengan lebih berhati-hati, cuman nampaknya kecepatan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Sinting.

          Setelah melewati Cisolok, kami memasuki Bayah. Sebenarnya untuk masuk ke Desa Sawarna dari arah Cisolok ada pertigaan ke kiri. Namum nampaknya kami berlima melewatkan pertigaan tersebut karena memang ternyata posisinya kurang begitu terlihat. Maka ketika kami sampai di pesisir Pantai di Bayah kami bertanya ke orang sekitar dan diberitahukan bahwa kami harus putar balik dan masuk ke gerbang menuju Pantai Pulo Manuk. Gerbang ini adalah pintu masuk ke Desa Sawarna dari arah Malingping.

          Jalanan masuk menuju Desa Sawarna agak lebih menyeramkan dari jalur sebelumnya. Jalur ini lebih sempit, masih naik turun, dan kiri kanan jalan merupakan hutan belantara yang cukup lebat. Ditambah langit yang sudah mulai menggelap karena jam sudah menunjuk 17.30 dan aroma khas hutan belantara, suasana makin terasa horor. Tak lama setelah melewati hutan, kami melihat ada jembatan gantung di sebelah kanan jalan. Jembatan ini adalah satu-satu nya akses untuk masuk ke Desa Sawarna. Kami pun menyeberang satu per satu.



          Setelah semuanya berhasil menyeberang dengan selamat sentosa, saya mulai menanyakan lokasi penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, yaitu Homestay Widi. Informasi tentang homestay ini saya peroleh dari forum traveler kaskus. Info yang saya dapat cukup lengkap, meliputi tarif, fasilitas, bahkan sedikit riwayat hidup pemiliknya. Rumah-rumah penduduk di dalam desa kebanyakan disewakan. Model-model rumahnya ada yang khas rumah penduduk pedesaan berupa rumah panggung, adapula yang model kontrakan. Untuk homestay Widi model penginapannya mirip kontrakan per kamar, dimana posisi nya di belakang rumah utama.

          Kami bertemu dengan Ibu Soliha dan Pak Ade yang merupakan suami istri pemilik homestay, setelah bernegosiasi sebentar disepakati tarif untuk kami adalah 80ribu per orang. Harga ini sudah termasuk makan 3 kali sehari. Kami menurunkan barang-barang, dan beristirahat. Jam menunjuk 18.00. Demi mengobati rasa penasaran dan sambil beristirahat, kami segera menuju pantai meskipun langit sudah mulai gelap. Jarak pantai dari homestay hanya 100meter.

         Puas nongkrong dipantai, kami kembali ke homestay untuk mandi kemudian makan malam.

         Minggu, 22 Januari.

         Saya terbangun jam 5.00, dimana Ai dan Bambang sudah tidak ada pada tempatnya. Agenda kami hari ini adalah ke Pantai Tanjung Layar, ke Gua Lalay, trus ke Pantai Laguna Pari. Sebelum berangkat ke pantai yang pertama, terlebih dahulu minum teh dan makan gorengan yang sudah disediakan sama Bu Soliha. Nikmat.

         Jarak pantai Tanjung Layar dari homestay sekitar 700meter. Bisa ditempuh dengan motor atau berjalan kaki. Kami berlima memutuskan berjalan kaki, sambil menikmati pagi di area persawahan desa. Yang unik dari pantai ini adalah adanya dua batu besar mirip layar perahu yang seolah-olah menjadi gerbang antara pantai dan laut. Airnya cukup tenang, ombak sudah terlebih dahulu pecah oleh karang.











         08.00 kami kembali ke homestay untuk sarapan. Menu pagi itu adalah nasi dengan bihun goreng dan lauk telor rebus balado. Kalau masih kurang pedes, masih ada sambal khas yang level pedes nya satu tingkat lebih tinggi.

         09.00 adalah waktu nya kami berangkat ke Gua Lalay. Untuk mencapai gua ini, kami harus keluar ke jalan raya, yaitu kembali menyeberang jembatan gantung kemudian berjalan kurang lebih 1km. Kami menanyakan informasi lokasi ini pada saat kami kembali dari pantai Tanjung Layar kepada dua anak kecil bermotor yang saat itu sedang menjadi guide. Nah, pada saat kami berjalan menuju ke Gua, kami kembali bertemu mereka dan kami jadikan guide kami untuk menyusuri Gua Lalay.

         Dari jalan raya, kami masih harus berjalan masuk melalui areal persawahan dan kembali menyeberang jembatan gantung untuk menuju Gua Lalay. Guide kecil kami memberi tahu bahwa di dalam gua sangat gelap sehingga harus membawa senter, karena kami tidak membawanya maka salah satu dari mereka kemudian kembali untuk mengambil senter. Sebelum sampai ke Gua Lalay, kami melewati sebuah gua yang pintu masuk nya kurang terlihat. Gua ini bernama Gua Kadir, Nama Kadir adalah seorang warga desa yang masuk ke gua tersebut dan tidak kembali sampai ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Ngeri.

          Sampai di mulut Gua Lalay, sandal kami tinggal. Dibawah gua terdapat sungai yang mengalir dari dalam. Kami berjalan melawan arus air untuk masuk kedalam. Makin ke dalam makin gelap dan makin licin. Di beberapa sudut gua, kami harus naik ke lantai gua untuk dapat menuju ke sudut lainnya. Lantai ini merupakan tanah basah yang sangat-sangat licin. Maka tidak heran kalau kami sangat gampang terjatuh ketika melewatinya. Nama Lalay sendiri berarti kelelawar. Mereka bertengger diatap gua disudut yang dalam.

          Kami masuk ke dalam gua sampai kurang lebih 100 meter. Sebenarnya jalur penyusuran masih jauh hingga mencapai 250 meter, tetapi jalur selanjutnya jauh lebih sulit, dimana kami harus merayap menyusurinya. Mengingat kami tidak membawa peralatan dan penerangan yang cukup minim, kami tidak melanjutkan dan kembali ke luar. Retribusi untuk memasuki gua ini adalah 2ribu per orang. Sementara guide kami yang anak kecil 3 orang kami berikan 30ribu sudah termasuk ongkos senter.










          11.00 kami kembali ke homestay untuk istirahat dan makan siang.

         Jam 13.00, kami bersiap menuju Laguna Pari. Pantai ini jaraknya 2km dari home stay ke arah yang sama dengan Pantai Tanjung Layar. Dari pantai Tanjung Layar, kami berjalan menyusuri pantai melewati bebatuan dan karang yang membentuk formasi yang menarik. Selanjutnya kami juga harus naik ke bukit untuk menyeberang. Pemandangan dari atas bukit tidak kalah menarik. Dengan pantai yang masih sepi, sisi alami pantai ini masih sangat orisinil.

















          16.00 adalah waktu untuk kembali mengingat kami sudah cukup jauh menyusuri pantai. Di sebuah sudut pantai dibawah bukit arah kami datang, kami mencoba untuk melewati bibir tebing pantai. Pertimbangannya adalah, untuk kembali melewati bukit kami harus menempuh jarak yang jauh, dan kami sudah cukup lelah, sementara pada saat berangkat kami melihat rombongan yang berhasil melewati nya.

          Yang luput dari perhatian kami adalah ternyata kondisi air laut sudah pasang. Di ujung tebing pantai, dimana kami diserbu ombak pasang, kami memutuskan kembali dan memutar arah untuk melewati bukit. Alasannya, kami tidak tau kondisi karang yang akan kami lewati, apakah dangkal atau dalam, salah mengambil keputusan kami bisa tenggelam dan terhempas ombak. Kami memilih untuk tidak mengambil resiko.

          Badan kami terasa sudah remuk, pikiran juga sudah lelah ketika harus kembali mendaki bukit untuk menyeberang. Rasanya ingin sekali berhenti, untuk istirahat, dimanapun kami sedang berada. Bukit yang kami lalui tinggi dan licin. Dengan sisa-sisa tenaga kami berhasil melewatinya. Masih ada 1 pantai lagi yang harus kami lalui untuk bisa menuju daratan yang aman untuk pulang, tapi waktu sudah menunjuk jam 18.00. Jalanan yang kami lewati ketika berangkat sudah tertutup air laut. Hempasan ombak sangat kencang hingga ke tebingnya. Bagaimana kita pulang? Kami mencoba untuk kembali naik bukit, mencoba mencari jalan untuk pulang. Tapi hasilnya nihil. Bambang dan Ai sudah menelusuri hingga atas. Tak ada jalan.

          Terpaksa kami kembali turun ke pantai, dengan air laut yang semakin meninggi. Kami berlima terduduk sesaat. Kami berdiskusi mencari cara, sementara di pantai tak ada seorang pun selain kami. Dari kejauhan batu Tanjung Layar pun sudah direndam air. Sangat berbeda dengan situasi pagi tadi, dimana-orang-orang masih bisa bermain dibawahnya.

          Dua pilihan buat kami adalah, kembali menyusuri tebing pantai yang sudah pasang air nya dan kencang ombaknya, atau kembali ke bukit dan menuju ke jalan raya yang jaraknya 1 jam berjalan kaki. Saya sendiri sudah cukup lelah untuk sekedar membayangkan kembali ke bukit, ditambah dengan 1 jam berjalan kaki, sedangkan hari sudah malam.

         Maka saya katakan kepada mereka teman-teman saya itu, "Gue coba dulu, nanti kalau berhasil kalian ikut, kalau tidak ntar gue balik kesini". Tidak ada yang menjawab. Kemudian saya bergegas mencoba menyeberang. Dan berhasil. Mereka menyusul. Sampai didaratan, kami bisa tertawa lagi.

         18.30 kami sampai di homestay, mandi, makan malam, dan istirahat.

         Perjalanan kami sampai sejauh ini luar biasa, setidaknya itu yang saya rasakan. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Pengalaman ini juga bisa membuat kami menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bersyukur. Dalam kehidupan, jalan tidak selamanya mudah, akan ada saatnya kita menemui jalan terjal, ada pula saatnya kita menemui jalan yang mulus. Ada pula saatnya kita terjatuh, tapi kita harus bangkit lagi dan berdiri lagi untuk kembali berjalan menuju cita-cita. Keluarga dan sahabat kita adalah orang-orang yang paling berharga dan akan selalu ada untuk kita dalam kondisi apapun. Maka jagalah dan jangan sia-siakan mereka.

           Senin, 23 Januari, 05.00

           Kami terbangun dalam cuaca hujan. Hari ini adalah waktunya kami pulang. Rencana berenang pagi pun batal karena sampai dengan kami berangkat 09.00 hujan masih belum reda. Pagi itu kami sarapan terakhir dan segera berpamitan dengan Pak Ade dan Bu Soliha yang ramah. Pesan Bu Soliha, "Jangan kapok ya main kesini".

           Diiringi hujan rintik-rintik, 09.00 kami pulang ke Bekasi, membawa banyak cerita, yang akan kami berikan kepada teman-teman kami yang lain, yang mungkin kali ini belum bisa ikut bersama kami, tapi semoga bisa ikut merasakan apa yang kami rasakan.

          Selesai.

Penulis : Nanang Indriyono
Sumber : https://www.facebook.com/notes/nanang-indriyono/berbagi-cerita-perjalanan-ke-sawarna/10151226244665157

Tambahan :
Joko Try Saputro ada detil yg kurang.
Swaktu membantu rider pulsar yg gubrak stelah aksi stuntman kondang.
Nanx,jopir n ai pun tak kuasa menahan hasrat ngebantu si kuda besi berdiri lg di turunan yg ckp curam. Panik motor bakal melorot,alih2 rem tangan yg diremas,malah tuas kopling yg dijepit k jari ai. Masih suka ngakak ngebayangin muka ai bilang 'jop2.. Bentar jari ai kjepit'


Arli Ramdan owh iya sekalian ai SPJ kan pengeluaran kemaren, sapa tau bisa menjadi yurispudensi bagi pembaca yg lain qiqiqiqi , :
Pemasukan :
1. iuran dana umat Rp. 200rb/orang x5                          :     1.000.000

2. sumbangan stuntmen kondang                                    :         50.000
         jumlah                                                                   :                       1.050.000

 
Pengeluaran :
1. makan siang barokah 2                                                :      83.000
2. Penginapan 2 hari + makan                                          :    800.000
3. Retribusi sawarna                                                         :     10.000
4. Guide gua lalay                                                             :     30.000
5. Retribusi Gua Lalay                                                      :        5.000
6. beli minum bekal di legon. Pari (mizon 2 aqua1)             :     20.000
7. minum teh hangat + cemilan, penawar stres                    :     11.000
8. beli duren d pelabuhan ratu                                            :     90.000
9. ada sisa ai bayarin toilet aja                                            :       1.000
            jumlah pengeluaran                                                 :                   1.050.000
           Saldo                                                                      :                                 0

 
demikian saya sampaikan untuk diketahui,,,
cc. mba Yuliyanti Christine, bung Bambang Wahyudi, bung Nanang Indriyono n bung Joko Try Saputro,,,,
terima kasih...