Selasa, 10 Desember 2013



TOUR DE BANDUNG SELATAN 29 – 30 DESEMBER 2012

Walaupun sedikit basi, namun setelah proses penjemuran dan penggorengan akhirnya catatan perjalanan Tour de Bandung Selatan rampung dan bisa kita nikmati bersama. Semoga bermanfaat bagi pembaca semuanya, selamat menikmati.
Berawal dari tertundanya pendjelajahan tour de jawa-bali, sehingga mengharuskan ane pulang ke Bandung lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.Tadinya saya mau langsung bekerja kembali di ladang,  berhubung permohonan cuti terlanjur disetujui, alhasil cuti tersebut saya manfaatkan dengan hibernasi layak nya beruang kutub melewati musim dingin, guna mengembalikan kondisi fisik dan stamina.
Dua hari masa hibernasi dilalui, badanpun terasa bugar dan segar. Terdengar dari kejauhan sayup-sayup hitamnya aspal memanggil dan raungan mesin berbisik mengajak kembali berkelana. Tanpa menunggu lama segera ane ambil handphone, langsung berkoordinasi dengan para hulubalang negeri cah kangkung untuk menayakan adakah rencana untuk kembali mencari kitab di penghujung tahun naga ini. Gayung bersambut, alhamdulillah para hulubalang berencana untuk mencari kitab ke daerah bandung selatan. Berhubung posisi sudah ada di Bandung, jadi kita sepakat untuk regroup di daerah Soreang.
Sabtu tanggal 29 Desember 2012 Pukul 09.00 ane berangkat dari rumah yang berlokasi di margahayu raya, dengan perkiraan brow nanang dan brow jopir tiba di Soreang sekitar pukul 10.00 atau 11.00, karena mereka berangkat dari Bekasi jam 07.00. Tiba di Soreang pukul 10.20, namun di TKP belum ada siapa-siapa, ternyata mereka baru nyampe Kantor Bandung Barat untuk istirahat sekalian sarapan dan makan siang di rapel. Pukul 12.15 kita baru bisa regroup di Soreang.
Tak menunggu lama, pukul 12.30 kita langsung gas ke ciwidey, tujuan kita adalah Situ Patengan. Jalur Soreang – Ciwidey tak kalah menarik dengan jalur-jalur yang pernah kita lewati, jalanan yang berkelok, turun-naik dan hijau nya perkebunan teh, sangat memanjakan mata. Kondisi jalan pun bagus dan mulus, walaupun long week end namun tidak seperti biasanya jalanan tidak begitu padat malah cenderung lenggang.
Pukul 13.20 touchdown di Situ Patengan, setelah melewati gerbang dan membayar retribusi langsung kita menikmati keindahan alam Situ Patengan. Entah untuk keberapa kali saya mengunjungi tempat wisata ini, tak ada yang banyak berubah masih tetap ramai seperti biasa. Menelisik setiap sudut situ dan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Lokasi situ yang berada di antara bukit, perkebunan teh, hutan pinus, dan beberapa vegetasi khas daerah tropis serta dihiasi cahaya matahari yang malu-malu bersembunyi di balik awan sehingga menghasilkan gradasi warna yang sangat indah sekali. Apalagi tak lama kemudian kami diselimuti kabut yang cukup pekat, sehingga suasananya seperti berada di Danau Lochness. Kabut hilang berganti rintik hujan menyapa kami, segera mencari tempat berteduh agar terlindung dari hujan dan udara dingin yang mulai menghigapi.


Cukup lama kami berada di Situ Patengan, setelah hujan berhenti dan hari pun telah senja, pukul 15.30 kami memutuskan untuk bergerak pulang. Terlena menikmati keindahan Situ Patengan, sampai lupa untuk mengisi perut. Mampir lah kami di salah satu tempat makan yang ada di ciwidey, yaitu Rumah Makan Saung Maritim. Menu yang ditawarkan sangat beragam, setalah penuh pertimbangan ahir nya menu yang dipilih adalah, ayam bakar madu, sate kambing, gule kambing, susu soda, teh botol dan teh manis hangat, yummy. 

Pukul 18.10 kami bergerak kembali,namun mengingat hari sudah larut, letihnya badan, dan kusutnya muka kami membatalkan rencana untuk menelisik suasana eksotisme kota Bandung di malam hari, kiita putuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah. Pukul 20.30 tiba di rumah, ta banyak aktifitas yang dilakukan bersih-bersih badan, beresin bawaan, dan menonton pertandingan bola sampai kantuk datang, mengingat esok hari masih ada perjalanan yang akan ditempuh, yaitu Curug Malela yang berada di Kelurahan Rongga Keamatan gunung Halu Kab, Bandung Barat.
 Minggu tanggal 30 Desember 2013 jam menunjukan pukul 08.05, setelah mandi, packing dan sarapan kami pun berangkat. Sebenernya kami berencana berangkat pukul 07.00 tapi karena satu dan lain hal kita bru bisa berangkat pkul 08.05. Padatnya kawasan Metro oleh lalu-lalang manusia baik itu yag sedang melakukan tindakan ekonomi ataupun hanya sekedar menikmati hangatnya sinar matahari pagi sambil menikmati kuliner yang tersaji, membuat waktu tempuh rumah – Soekarno Hatta terasa lama sekali. 

Diantara kami tidak ada yang tahu jalur menuju Curug Malela, beruntung Mbah Google selalu siap sedia memberikan informasi yang kami butuhkan. Kami memutuskan untuk melalui jalur Soekarno Hatta – Cimahi – Cimareme – Batujajar – Cililin – Gunung Halu – Curug Malela. Kondisi jalanan Soekarno Hatta – Cimareme ramai lancar, namun jalanan sedikit macet ketika kita sampai di Pasar Batujajar. Pertigaan Pasar Batujajar memang selalu macet dikarenakan jalan yang kurang lebar, banyak angkot ngetem, Bis ¾ yang melambat menurun-naikan penumpang, ditambah Delman yang lalu lalang. Track Batujajar – Gunung Halu lumayan seru, jalanan cukup bagus, kelokan ny pun sedap, namun ketika ketika melewati kebun teh jalanan menjadi kurang bersahabat.
Setelah cukup lama kami melewati perkebunan teh dan lereng perbukitan akhirnya kita sampai di pangkalan ojeg yg disebutkan di salah satu blog yang kami jadikan acuan (maap tidak disebutkan nama blognya, lupa), pertanda kami on the right track. Track dari pangkalan ojeg menuju Curug Malela lumayan memicu adrenalin dan mengasah skill, jalanan berbatu, berkelak-kelok, naik – turun, kubangan lumpur yang cukup dalam sisa hujan semalam membuat kita hanya bisa mengelus dada dan berharap tunggangan kami sehat walafiat. Mengutip kata bijak pa sutan batugana untuk menggambarkan kondisi track yang kami lewati “ngeri-ngeri sedap”. Tak cukup disitu, turunan tanah merah yang cukup curam menuju tempat parkir menjadi penutup wahana adrenalin di hari ini.



Kira-kira pukul 11.20 kami tiba di Curug Malela. Kami kira kesenian pencak silat yang diiringi musik khas Jawa Barat digelar untuk menyambut kedatangan kami, ternyata itu dalam rangka menyambut kedatangan Bupati Bandung Barat yang akan mengadakan kunjungan ke Curug Malela. Semoga dengan kedatangan Pejabat setempat membuat sarana prasarana dan kondisi jalan menuju Curug Malela semakin bagus, sehingga semakin banyak pengunjung yang diharapkan menggeliatnya perekonomian di Gunung Halu dan sekitarnya. Dari kejauhan sudah mulai terlihat penampakan Curug Malela yang dikenal sebagai Little Niagara.
Tidak lama kami menikmati segarnya riak air Curug Malela, dikarenakan hujan mulai turun. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kami memutuskan untuk naik dan berteduh di salah satu rumah kayu yang ada di TKP. Menanti hujan reda, pikiran kami menerawang bagaimana kami melewati turunan jalan merah menuju parkiran, yang sekarang menjadi tanjakan yang pasti susah dilewati dikarenakan air hujan yang membuat tanah merah tersebut menjadi lumpur yang licin.


Add caption



Pukul 13.25 hujan berhenti, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Alhamdulillah atas bantuan beberapa penduduk setempat tunggangan kami bisa melewati tanjakan yang licin dengan aman sentosa. Tidak lupa kami mampir di warung nasi yang terlewati untuk memberikan asupan gizi bagi tubuh kami supaya tetap fit selama berpetualang. Tak ada yang special selama perjalanan pulang. Pukul 17.05 kami tiba di pertigaan Cimareme, kami berpisah mengambil jalan hidup masing-masing, bro jopir dan bro nanang meneruskan kembali perjalanan ke barat menuju bekasi sedangkan saya ke timur menuju rumah. Tercatat pukul 18.30  touchdown di rumah dengan kondisi letih dan penuh lempur namun hati senang.

Sekian terima kasih. Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Sekapur Sirih
Secara garis besar penjelajahan kali ini aman, lancar sentosa tidak ada hambatan yang berarti. Berhubung catatan perjalanan ini ditulis jauh setelah selesainya petualangan, sehingga review waktu tempuh, jarak tempuh dan biaya yang telah dikeluarkan tidak bisa saya sajikan.

Bagi pembaca yang berencana untuk mengunjungi Curug Malela sekarang ini, saya sarankan untuk difikirkan kembali, karena kondisi jalanan nya belum membaik (info dari um andri yang mencoba mencicipi track Malela kalau ga salah di bulan november 2013) apalagi sekarang sedang musim hujan. Tapi kalau merasa tertantang dengan kondisi yang demikian silahkan, mungkin sensasinya akan lebih terasa ketika curah hujan cukup tinggi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar