TOUR DE BANDUNG SELATAN 29 – 30 DESEMBER 2012
Walaupun sedikit basi, namun setelah proses penjemuran dan penggorengan
akhirnya catatan perjalanan Tour de Bandung Selatan rampung dan bisa kita
nikmati bersama. Semoga bermanfaat bagi pembaca semuanya, selamat menikmati.
Berawal dari tertundanya pendjelajahan tour de jawa-bali, sehingga
mengharuskan ane pulang ke Bandung lebih cepat dari jadwal yang
direncanakan.Tadinya saya mau langsung bekerja kembali di ladang, berhubung permohonan cuti terlanjur disetujui,
alhasil cuti tersebut saya manfaatkan dengan hibernasi layak nya beruang kutub
melewati musim dingin, guna mengembalikan kondisi fisik dan stamina.
Dua hari masa hibernasi dilalui, badanpun terasa bugar dan segar.
Terdengar dari kejauhan sayup-sayup hitamnya aspal memanggil dan raungan mesin
berbisik mengajak kembali berkelana. Tanpa menunggu lama segera ane ambil
handphone, langsung berkoordinasi dengan para hulubalang negeri cah kangkung
untuk menayakan adakah rencana untuk kembali mencari kitab di penghujung tahun
naga ini. Gayung bersambut, alhamdulillah para hulubalang berencana untuk
mencari kitab ke daerah bandung selatan. Berhubung posisi sudah ada di Bandung,
jadi kita sepakat untuk regroup di daerah Soreang.
Sabtu tanggal 29 Desember 2012 Pukul 09.00 ane berangkat dari rumah
yang berlokasi di margahayu raya, dengan perkiraan brow nanang dan brow jopir
tiba di Soreang sekitar pukul 10.00 atau 11.00, karena mereka berangkat dari
Bekasi jam 07.00. Tiba di Soreang pukul 10.20, namun di TKP belum ada
siapa-siapa, ternyata mereka baru nyampe Kantor Bandung Barat untuk istirahat
sekalian sarapan dan makan siang di rapel. Pukul 12.15 kita baru bisa regroup
di Soreang.
Tak menunggu lama, pukul 12.30 kita langsung gas ke ciwidey, tujuan
kita adalah Situ Patengan. Jalur Soreang – Ciwidey tak kalah menarik dengan
jalur-jalur yang pernah kita lewati, jalanan yang berkelok, turun-naik dan
hijau nya perkebunan teh, sangat memanjakan mata. Kondisi jalan pun bagus dan
mulus, walaupun long week end namun tidak seperti biasanya jalanan tidak begitu
padat malah cenderung lenggang.
Pukul 13.20 touchdown di Situ Patengan, setelah melewati gerbang dan
membayar retribusi langsung kita menikmati keindahan alam Situ Patengan. Entah
untuk keberapa kali saya mengunjungi tempat wisata ini, tak ada yang banyak
berubah masih tetap ramai seperti biasa. Menelisik setiap sudut situ dan
mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Lokasi situ yang berada di antara
bukit, perkebunan teh, hutan pinus, dan beberapa vegetasi khas daerah tropis
serta dihiasi cahaya matahari yang malu-malu bersembunyi di balik awan sehingga
menghasilkan gradasi warna yang sangat indah sekali. Apalagi tak lama kemudian
kami diselimuti kabut yang cukup pekat, sehingga suasananya seperti berada di
Danau Lochness. Kabut hilang berganti rintik hujan menyapa kami, segera mencari
tempat berteduh agar terlindung dari hujan dan udara dingin yang mulai
menghigapi.
Cukup lama kami berada di Situ Patengan, setelah hujan berhenti dan
hari pun telah senja, pukul 15.30 kami memutuskan untuk bergerak pulang.
Terlena menikmati keindahan Situ Patengan, sampai lupa untuk mengisi perut.
Mampir lah kami di salah satu tempat makan yang ada di ciwidey, yaitu Rumah
Makan Saung Maritim. Menu yang ditawarkan sangat beragam, setalah penuh
pertimbangan ahir nya menu yang dipilih adalah, ayam bakar madu, sate kambing,
gule kambing, susu soda, teh botol dan teh manis hangat, yummy.
Pukul 18.10 kami bergerak kembali,namun mengingat hari sudah larut,
letihnya badan, dan kusutnya muka kami membatalkan rencana untuk menelisik
suasana eksotisme kota Bandung di malam hari, kiita putuskan untuk pulang dan
beristirahat di rumah. Pukul 20.30 tiba di rumah, ta banyak aktifitas yang
dilakukan bersih-bersih badan, beresin bawaan, dan menonton pertandingan bola
sampai kantuk datang, mengingat esok hari masih ada perjalanan yang akan
ditempuh, yaitu Curug Malela yang berada di Kelurahan Rongga Keamatan gunung
Halu Kab, Bandung Barat.
Minggu tanggal 30 Desember 2013
jam menunjukan pukul 08.05, setelah mandi, packing dan sarapan kami pun berangkat.
Sebenernya kami berencana berangkat pukul 07.00 tapi karena satu dan lain hal
kita bru bisa berangkat pkul 08.05. Padatnya kawasan Metro oleh lalu-lalang
manusia baik itu yag sedang melakukan tindakan ekonomi ataupun hanya sekedar
menikmati hangatnya sinar matahari pagi sambil menikmati kuliner yang tersaji,
membuat waktu tempuh rumah – Soekarno Hatta terasa lama sekali.
Diantara kami tidak ada yang tahu jalur menuju Curug Malela, beruntung
Mbah Google selalu siap sedia memberikan informasi yang kami butuhkan. Kami memutuskan
untuk melalui jalur Soekarno Hatta – Cimahi – Cimareme – Batujajar – Cililin –
Gunung Halu – Curug Malela. Kondisi jalanan Soekarno Hatta – Cimareme ramai
lancar, namun jalanan sedikit macet ketika kita sampai di Pasar Batujajar. Pertigaan
Pasar Batujajar memang selalu macet dikarenakan jalan yang kurang lebar, banyak
angkot ngetem, Bis ¾ yang melambat menurun-naikan penumpang, ditambah Delman
yang lalu lalang. Track Batujajar – Gunung Halu lumayan seru, jalanan cukup
bagus, kelokan ny pun sedap, namun ketika ketika melewati kebun teh jalanan
menjadi kurang bersahabat.
Setelah cukup lama kami melewati perkebunan teh dan lereng perbukitan
akhirnya kita sampai di pangkalan ojeg yg disebutkan di salah satu blog yang
kami jadikan acuan (maap tidak disebutkan nama blognya, lupa), pertanda kami on the right track. Track dari pangkalan
ojeg menuju Curug Malela lumayan memicu adrenalin dan mengasah skill, jalanan
berbatu, berkelak-kelok, naik – turun, kubangan lumpur yang cukup dalam sisa
hujan semalam membuat kita hanya bisa mengelus dada dan berharap tunggangan
kami sehat walafiat. Mengutip kata bijak pa sutan batugana untuk menggambarkan
kondisi track yang kami lewati “ngeri-ngeri sedap”. Tak cukup disitu, turunan
tanah merah yang cukup curam menuju tempat parkir menjadi penutup wahana
adrenalin di hari ini.
Kira-kira pukul 11.20 kami tiba di Curug Malela. Kami kira kesenian
pencak silat yang diiringi musik khas Jawa Barat digelar untuk menyambut
kedatangan kami, ternyata itu dalam rangka menyambut kedatangan Bupati Bandung
Barat yang akan mengadakan kunjungan ke Curug Malela. Semoga dengan kedatangan
Pejabat setempat membuat sarana prasarana dan kondisi jalan menuju Curug Malela
semakin bagus, sehingga semakin banyak pengunjung yang diharapkan menggeliatnya
perekonomian di Gunung Halu dan sekitarnya. Dari kejauhan sudah mulai terlihat
penampakan Curug Malela yang dikenal sebagai Little Niagara.
Tidak lama kami menikmati segarnya riak air Curug Malela, dikarenakan
hujan mulai turun. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kami memutuskan
untuk naik dan berteduh di salah satu rumah kayu yang ada di TKP. Menanti hujan
reda, pikiran kami menerawang bagaimana kami melewati turunan jalan merah menuju
parkiran, yang sekarang menjadi tanjakan yang pasti susah dilewati dikarenakan
air hujan yang membuat tanah merah tersebut menjadi lumpur yang licin.
| Add caption |
Pukul 13.25 hujan berhenti, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Alhamdulillah atas bantuan beberapa penduduk setempat tunggangan kami bisa melewati tanjakan yang licin dengan aman sentosa. Tidak lupa kami mampir di warung nasi yang terlewati untuk memberikan asupan gizi bagi tubuh kami supaya tetap fit selama berpetualang. Tak ada yang special selama perjalanan pulang. Pukul 17.05 kami tiba di pertigaan Cimareme, kami berpisah mengambil jalan hidup masing-masing, bro jopir dan bro nanang meneruskan kembali perjalanan ke barat menuju bekasi sedangkan saya ke timur menuju rumah. Tercatat pukul 18.30 touchdown di rumah dengan kondisi letih dan penuh lempur namun hati senang.
Sekian terima kasih. Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Sekapur Sirih
Secara garis besar penjelajahan kali ini aman, lancar sentosa tidak ada
hambatan yang berarti. Berhubung catatan perjalanan ini ditulis jauh setelah
selesainya petualangan, sehingga review waktu tempuh, jarak tempuh dan biaya
yang telah dikeluarkan tidak bisa saya sajikan.
Bagi pembaca yang berencana untuk mengunjungi Curug Malela sekarang ini, saya sarankan untuk difikirkan kembali, karena kondisi jalanan nya belum membaik (info dari um andri yang mencoba mencicipi track Malela kalau ga salah di bulan november 2013) apalagi sekarang sedang musim hujan. Tapi kalau merasa tertantang dengan kondisi yang demikian silahkan, mungkin sensasinya akan lebih terasa ketika curah hujan cukup tinggi.














































