Berbagi Cerita Perjalanan ke Sawarna
Entah siapa yang memulai, pagi itu kalender menunjukkan bahwa
hari itu adalah Sabtu 21 Januari 2012. Ketika sadar, saya ternyata telah
berkumpul bersama Bambang Wahyudi, Yuliyanti Christine, dan Arli Ramdan
untuk sarapan. Hari itu masih pagi, jam 06.30, dan kami harus segera
berangkat untuk kembali berkumpul di rumah Joko Try Saputro maksimal jam
07.00, meskipun kami ragu dia sudah bangun ketika kami sampai kesana.
Melewati jalur Grand Wisata-Grand Residence, jalanan sudah terlihat cukup ramai, dengan aspal dan jalan cor yang kurang mulus, kami menempuh jalur ini selama kurang lebih 30 menit, catatan waktu yang jauh tertinggal dengan catatan waktu sang pengembang perumahan Grand Residence dimana dia bisa menempuh dalam waktu 10 menit seperti yang dipamerkan pada papan iklan.
Setelah semua persiapan selesai,07.30 kami berangkat dari Grand Residence bersama cuaca yang cerah menyusuri jalur Setu-Cileungsi. Jalanan yang masih relatif sepi dan aspal yang cukup mulus membuat kami dapat melaju cukup kencang. Jalur berikutnya yang kami lalui adalah Cileungsi-Gunung Putri-Citeureup-Cibinong-Bogor. Sebenarnya kami bisa melewati jalur Babakan Madang-Sentul tanpa lewat pasar Cibinong yang super ruwet, tapi karena leader udah terlanjur belok kanan arah Cibinong, maka kami pun harus mengikuti.
Cuaca agak mendung ketika kami sampai di Cibinong, lalu lintas juga cukup padat membuat kami sering terpisah dari rombongan. Selepas kemacetan, kami regrouping kembali, cuman disini ternyata Bambang Wahyudi tidak kunjung terlihat, setelah menunggu 10 menit kami mendapat kabar ternyata dia ditilang polisi karena menerobos lampu merah. 50 ribu pun dia sumbangkan kepada polisi untuk ongkos pulang setelah bertugas sekaligus untuk ongkos beli peta, agar dia tau bahwa Takengon adalah nama kota di Aceh, bukan di Kalimantan Barat. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Memasuki Bogor, 09.30 hujan mulai turun, kami berhenti untuk memakai perlengkapan hujan, sepatu ganti sandal, sarung tangan off, jas hujan on, sarung hujan buat tas on. Perjalanan langsung dilanjutkan menyusuri kota Bogor menuju jalan raya Sukabumi. Selanjutnya kami menempuh jalur jalan raya Sukabumi arah Cicurug kemudian Cibadak. Jalur ini lalu lintas di dominasi oleh truk mulai dari kecil maupun besar serta angkutan umum, sehingga meskipun jalanan mulus tetap disarankan untuk menjaga konsentrasi dan mengontrol kecepatan. Sampai Cibadak 11.00 dan cuaca sudah kembali cerah. Kembali kami rehat untuk melepas perlengkapan hujan dan mengetap oli badan.
11.30 perjalanan kembali dilanjutkan. Rute yang akan ditempuh selanjutnya adalah Cibadak-Warungkiara-Pelabuhan Ratu. Estimasi waktu tempuh jalur ini adalah 1,5-2 jam. Jalanan jalur ini berbeda dengan jalur sebelumnya, dimana jalanan lebih sempit dan tidak terlalu mulus, berkelok-kelok, banyak tanjakan dan turunan. Alhamdulillah kami melewati jalur ini dalam kondisi cuaca yang cerah karena apabila hujan maka jalanan yang basah akan semakin memperlambat perjalanan kami.
Waktu menunjuk jam 13.00 ketika kami mulai masuk Pelabuhan Ratu, sadar sudah waktu nya makan siang, kami mencari-cari warung makan. Selanjutnya kami menemukan Warung Sate Barokah 2 disebelah kiri jalan. Motor pun kita parkirkan.
Menu makan siang hari itu untuk berlima adalah Sate Ayam 20 tusuk, Sate Kambing 20 Tusuk, 1 Sop Kambing, 2 Es Jeruk, 1 Teh Manis Panas, 1 Es Teh Manis,dan 1 Air Comberan buat Bambang .
Biaya total makan siang saya kurang tau (berapa Ai?), tapi sekaligus
untuk iuran awal dana umat, maka masing-masing dari kami iuran 50ribu.
Melalui perundingan yang cukup alot, maka Warung Sate Barokah 2 menjadi
saksi penunjukan Ai sebagai bendahara perjalanan ini.

Kurang lebih satu jam kami menghabiskan waktu untuk makan, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Cuaca masih cerah. Jalur berikut yang akan dilalui adalah Pelabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna. Waktu tempuh diperkirakan 1-1,5jam. Jalur ini dilalui dengan menyusuri pesisir pantai, sepanjang jalan kami dapat melihat pemandangan yang sangat indah, terutama pada saat kami menanjak hingga puncak bukit kami dapat melihat pantai dari atas. Subhanalloh banget dah.
Jalur Pelabuhan Ratu-Cisolok benar-benar membuat kami terlena seperti Ikke Nurjanah. Pemandangan yang bagus, jalanan berkelok-kelok, tanjakan tinggi dan turunan yang dalam membius setiap orang yang melewati nya. Hingga pada suatu turunan panjang berkelok-kelok, sdr Bambang Wahyudi yang diboncengi Yuliyanti Christine tidak dapat mengendalikan laju motornya meski sudah memakai ban Swallow yang cengkeramannya terkenal kuat. Insiden tak terelakkan. Saya yang berada jauh dibelakang mendapati mereka sudah terkapar dipinggir jalan. Kaget. Tapi Alhamdulillah tidak ada cedera serius, hanya memar dan lecet di kaki saja. Bahkan saat saya menghampiri, mereka sedang tertawa-tawa.

Sesaat setelah kejadian, ada rombongan biker dari Cianjur, sekitar 15-20 motor mungkin, ramai sekali. Mereka berhenti menghampiri dan menanyakan kondisi kami. Dirasa tidak ada yang serius dan masih bisa ditangani sendiri, kami mengucapkan terima kasih dan mempersilakan mereka melanjutkan perjalanan. Sekali lagi terima kasih buat rombongan biker Cianjur, ditempat yang jauh dari rumah dan tidak ada siapa-siapa, kami seperti punya banyak saudara.
Kejutan belum berhenti, sesaat setelah rombongan biker Cianjur berlalu, ada seorang touring biker Bajaj Fulsar terperosok pula ditempat yang sama, saya, Joko, dan Ai berlarian menolongnya, motor diberdirikan, biker terlihat masih shock. Beberapa saat setelah memulihkan kesadaraan, dia pun melanjutkan perjalanan.
Motor Mega Pro Bambang kami periksa, setang bengkok, bensin terlihat menetes, untunglah tidak jauh dari TKP ada bengkel motor. Dan ternyata, di bengkel tersebut juga sedang ada motor yang diperbaiki karena mengalami insiden di tempat yang sama. Warga sekitar mengatakan, ditempat itu kecelakaan sering sekali terjadi, bahkan sehari sebelumnya ada mobil box yang kecelakaan dan sampai memakan korban jiwa. Merinding mendengarnya seraya bersyukur tidak ada sesuatu yang buruk menimpa kami.
17.00 motor Bambang selesai diperbaiki, setelah dicoba berkali-kali motor pun siap. Kami melanjutkan perjalanan yang tinggal 30-45 menit lagi dengan lebih berhati-hati, cuman nampaknya kecepatan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Sinting.
Setelah melewati Cisolok, kami memasuki Bayah. Sebenarnya untuk masuk ke Desa Sawarna dari arah Cisolok ada pertigaan ke kiri. Namum nampaknya kami berlima melewatkan pertigaan tersebut karena memang ternyata posisinya kurang begitu terlihat. Maka ketika kami sampai di pesisir Pantai di Bayah kami bertanya ke orang sekitar dan diberitahukan bahwa kami harus putar balik dan masuk ke gerbang menuju Pantai Pulo Manuk. Gerbang ini adalah pintu masuk ke Desa Sawarna dari arah Malingping.
Jalanan masuk menuju Desa Sawarna agak lebih menyeramkan dari jalur sebelumnya. Jalur ini lebih sempit, masih naik turun, dan kiri kanan jalan merupakan hutan belantara yang cukup lebat. Ditambah langit yang sudah mulai menggelap karena jam sudah menunjuk 17.30 dan aroma khas hutan belantara, suasana makin terasa horor. Tak lama setelah melewati hutan, kami melihat ada jembatan gantung di sebelah kanan jalan. Jembatan ini adalah satu-satu nya akses untuk masuk ke Desa Sawarna. Kami pun menyeberang satu per satu.

Setelah semuanya berhasil menyeberang dengan selamat sentosa, saya mulai menanyakan lokasi penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, yaitu Homestay Widi. Informasi tentang homestay ini saya peroleh dari forum traveler kaskus. Info yang saya dapat cukup lengkap, meliputi tarif, fasilitas, bahkan sedikit riwayat hidup pemiliknya. Rumah-rumah penduduk di dalam desa kebanyakan disewakan. Model-model rumahnya ada yang khas rumah penduduk pedesaan berupa rumah panggung, adapula yang model kontrakan. Untuk homestay Widi model penginapannya mirip kontrakan per kamar, dimana posisi nya di belakang rumah utama.
Kami bertemu dengan Ibu Soliha dan Pak Ade yang merupakan suami istri pemilik homestay, setelah bernegosiasi sebentar disepakati tarif untuk kami adalah 80ribu per orang. Harga ini sudah termasuk makan 3 kali sehari. Kami menurunkan barang-barang, dan beristirahat. Jam menunjuk 18.00. Demi mengobati rasa penasaran dan sambil beristirahat, kami segera menuju pantai meskipun langit sudah mulai gelap. Jarak pantai dari homestay hanya 100meter.
Puas nongkrong dipantai, kami kembali ke homestay untuk mandi kemudian makan malam.
Minggu, 22 Januari.
Saya terbangun jam 5.00, dimana Ai dan Bambang sudah tidak ada pada tempatnya. Agenda kami hari ini adalah ke Pantai Tanjung Layar, ke Gua Lalay, trus ke Pantai Laguna Pari. Sebelum berangkat ke pantai yang pertama, terlebih dahulu minum teh dan makan gorengan yang sudah disediakan sama Bu Soliha. Nikmat.
Jarak pantai Tanjung Layar dari homestay sekitar 700meter. Bisa ditempuh dengan motor atau berjalan kaki. Kami berlima memutuskan berjalan kaki, sambil menikmati pagi di area persawahan desa. Yang unik dari pantai ini adalah adanya dua batu besar mirip layar perahu yang seolah-olah menjadi gerbang antara pantai dan laut. Airnya cukup tenang, ombak sudah terlebih dahulu pecah oleh karang.









08.00 kami kembali ke homestay untuk sarapan. Menu pagi itu adalah nasi dengan bihun goreng dan lauk telor rebus balado. Kalau masih kurang pedes, masih ada sambal khas yang level pedes nya satu tingkat lebih tinggi.
09.00 adalah waktu nya kami berangkat ke Gua Lalay. Untuk mencapai gua ini, kami harus keluar ke jalan raya, yaitu kembali menyeberang jembatan gantung kemudian berjalan kurang lebih 1km. Kami menanyakan informasi lokasi ini pada saat kami kembali dari pantai Tanjung Layar kepada dua anak kecil bermotor yang saat itu sedang menjadi guide. Nah, pada saat kami berjalan menuju ke Gua, kami kembali bertemu mereka dan kami jadikan guide kami untuk menyusuri Gua Lalay.
Dari jalan raya, kami masih harus berjalan masuk melalui areal persawahan dan kembali menyeberang jembatan gantung untuk menuju Gua Lalay. Guide kecil kami memberi tahu bahwa di dalam gua sangat gelap sehingga harus membawa senter, karena kami tidak membawanya maka salah satu dari mereka kemudian kembali untuk mengambil senter. Sebelum sampai ke Gua Lalay, kami melewati sebuah gua yang pintu masuk nya kurang terlihat. Gua ini bernama Gua Kadir, Nama Kadir adalah seorang warga desa yang masuk ke gua tersebut dan tidak kembali sampai ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Ngeri.
Sampai di mulut Gua Lalay, sandal kami tinggal. Dibawah gua terdapat sungai yang mengalir dari dalam. Kami berjalan melawan arus air untuk masuk kedalam. Makin ke dalam makin gelap dan makin licin. Di beberapa sudut gua, kami harus naik ke lantai gua untuk dapat menuju ke sudut lainnya. Lantai ini merupakan tanah basah yang sangat-sangat licin. Maka tidak heran kalau kami sangat gampang terjatuh ketika melewatinya. Nama Lalay sendiri berarti kelelawar. Mereka bertengger diatap gua disudut yang dalam.
Kami masuk ke dalam gua sampai kurang lebih 100 meter. Sebenarnya jalur penyusuran masih jauh hingga mencapai 250 meter, tetapi jalur selanjutnya jauh lebih sulit, dimana kami harus merayap menyusurinya. Mengingat kami tidak membawa peralatan dan penerangan yang cukup minim, kami tidak melanjutkan dan kembali ke luar. Retribusi untuk memasuki gua ini adalah 2ribu per orang. Sementara guide kami yang anak kecil 3 orang kami berikan 30ribu sudah termasuk ongkos senter.








11.00 kami kembali ke homestay untuk istirahat dan makan siang.
Jam 13.00, kami bersiap menuju Laguna Pari. Pantai ini jaraknya 2km dari home stay ke arah yang sama dengan Pantai Tanjung Layar. Dari pantai Tanjung Layar, kami berjalan menyusuri pantai melewati bebatuan dan karang yang membentuk formasi yang menarik. Selanjutnya kami juga harus naik ke bukit untuk menyeberang. Pemandangan dari atas bukit tidak kalah menarik. Dengan pantai yang masih sepi, sisi alami pantai ini masih sangat orisinil.















16.00 adalah waktu untuk kembali mengingat kami sudah cukup jauh menyusuri pantai. Di sebuah sudut pantai dibawah bukit arah kami datang, kami mencoba untuk melewati bibir tebing pantai. Pertimbangannya adalah, untuk kembali melewati bukit kami harus menempuh jarak yang jauh, dan kami sudah cukup lelah, sementara pada saat berangkat kami melihat rombongan yang berhasil melewati nya.
Yang luput dari perhatian kami adalah ternyata kondisi air laut sudah pasang. Di ujung tebing pantai, dimana kami diserbu ombak pasang, kami memutuskan kembali dan memutar arah untuk melewati bukit. Alasannya, kami tidak tau kondisi karang yang akan kami lewati, apakah dangkal atau dalam, salah mengambil keputusan kami bisa tenggelam dan terhempas ombak. Kami memilih untuk tidak mengambil resiko.
Badan kami terasa sudah remuk, pikiran juga sudah lelah ketika harus kembali mendaki bukit untuk menyeberang. Rasanya ingin sekali berhenti, untuk istirahat, dimanapun kami sedang berada. Bukit yang kami lalui tinggi dan licin. Dengan sisa-sisa tenaga kami berhasil melewatinya. Masih ada 1 pantai lagi yang harus kami lalui untuk bisa menuju daratan yang aman untuk pulang, tapi waktu sudah menunjuk jam 18.00. Jalanan yang kami lewati ketika berangkat sudah tertutup air laut. Hempasan ombak sangat kencang hingga ke tebingnya. Bagaimana kita pulang? Kami mencoba untuk kembali naik bukit, mencoba mencari jalan untuk pulang. Tapi hasilnya nihil. Bambang dan Ai sudah menelusuri hingga atas. Tak ada jalan.
Terpaksa kami kembali turun ke pantai, dengan air laut yang semakin meninggi. Kami berlima terduduk sesaat. Kami berdiskusi mencari cara, sementara di pantai tak ada seorang pun selain kami. Dari kejauhan batu Tanjung Layar pun sudah direndam air. Sangat berbeda dengan situasi pagi tadi, dimana-orang-orang masih bisa bermain dibawahnya.
Dua pilihan buat kami adalah, kembali menyusuri tebing pantai yang sudah pasang air nya dan kencang ombaknya, atau kembali ke bukit dan menuju ke jalan raya yang jaraknya 1 jam berjalan kaki. Saya sendiri sudah cukup lelah untuk sekedar membayangkan kembali ke bukit, ditambah dengan 1 jam berjalan kaki, sedangkan hari sudah malam.
Maka saya katakan kepada mereka teman-teman saya itu, "Gue coba dulu, nanti kalau berhasil kalian ikut, kalau tidak ntar gue balik kesini". Tidak ada yang menjawab. Kemudian saya bergegas mencoba menyeberang. Dan berhasil. Mereka menyusul. Sampai didaratan, kami bisa tertawa lagi.
18.30 kami sampai di homestay, mandi, makan malam, dan istirahat.
Perjalanan kami sampai sejauh ini luar biasa, setidaknya itu yang saya rasakan. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Pengalaman ini juga bisa membuat kami menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bersyukur. Dalam kehidupan, jalan tidak selamanya mudah, akan ada saatnya kita menemui jalan terjal, ada pula saatnya kita menemui jalan yang mulus. Ada pula saatnya kita terjatuh, tapi kita harus bangkit lagi dan berdiri lagi untuk kembali berjalan menuju cita-cita. Keluarga dan sahabat kita adalah orang-orang yang paling berharga dan akan selalu ada untuk kita dalam kondisi apapun. Maka jagalah dan jangan sia-siakan mereka.
Senin, 23 Januari, 05.00
Kami terbangun dalam cuaca hujan. Hari ini adalah waktunya kami pulang. Rencana berenang pagi pun batal karena sampai dengan kami berangkat 09.00 hujan masih belum reda. Pagi itu kami sarapan terakhir dan segera berpamitan dengan Pak Ade dan Bu Soliha yang ramah. Pesan Bu Soliha, "Jangan kapok ya main kesini".
Diiringi hujan rintik-rintik, 09.00 kami pulang ke Bekasi, membawa banyak cerita, yang akan kami berikan kepada teman-teman kami yang lain, yang mungkin kali ini belum bisa ikut bersama kami, tapi semoga bisa ikut merasakan apa yang kami rasakan.
Selesai.
Penulis : Nanang Indriyono
Sumber : https://www.facebook.com/notes/nanang-indriyono/berbagi-cerita-perjalanan-ke-sawarna/10151226244665157
Tambahan :
Joko Try Saputro ada detil yg kurang.
Swaktu membantu rider pulsar yg gubrak stelah aksi stuntman kondang.
Nanx,jopir n ai pun tak kuasa menahan hasrat ngebantu si kuda besi berdiri lg di turunan yg ckp curam. Panik motor bakal melorot,alih2 rem tangan yg diremas,malah tuas kopling yg dijepit k jari ai. Masih suka ngakak ngebayangin muka ai bilang 'jop2.. Bentar jari ai kjepit'
Arli Ramdan owh iya sekalian ai SPJ kan pengeluaran kemaren, sapa tau bisa menjadi yurispudensi bagi pembaca yg lain qiqiqiqi , :
Pemasukan :
1. iuran dana umat Rp. 200rb/orang x5 : 1.000.000
2. sumbangan stuntmen kondang : 50.000
jumlah : 1.050.000
Pengeluaran :
1. makan siang barokah 2 : 83.000
2. Penginapan 2 hari + makan : 800.000
3. Retribusi sawarna : 10.000
4. Guide gua lalay : 30.000
5. Retribusi Gua Lalay : 5.000
6. beli minum bekal di legon. Pari (mizon 2 aqua1) : 20.000
7. minum teh hangat + cemilan, penawar stres : 11.000
8. beli duren d pelabuhan ratu : 90.000
9. ada sisa ai bayarin toilet aja : 1.000
jumlah pengeluaran : 1.050.000
Saldo : 0
demikian saya sampaikan untuk diketahui,,,
cc. mba Yuliyanti Christine, bung Bambang Wahyudi, bung Nanang Indriyono n bung Joko Try Saputro,,,,
terima kasih...
Melewati jalur Grand Wisata-Grand Residence, jalanan sudah terlihat cukup ramai, dengan aspal dan jalan cor yang kurang mulus, kami menempuh jalur ini selama kurang lebih 30 menit, catatan waktu yang jauh tertinggal dengan catatan waktu sang pengembang perumahan Grand Residence dimana dia bisa menempuh dalam waktu 10 menit seperti yang dipamerkan pada papan iklan.
Setelah semua persiapan selesai,07.30 kami berangkat dari Grand Residence bersama cuaca yang cerah menyusuri jalur Setu-Cileungsi. Jalanan yang masih relatif sepi dan aspal yang cukup mulus membuat kami dapat melaju cukup kencang. Jalur berikutnya yang kami lalui adalah Cileungsi-Gunung Putri-Citeureup-Cibinong-Bogor. Sebenarnya kami bisa melewati jalur Babakan Madang-Sentul tanpa lewat pasar Cibinong yang super ruwet, tapi karena leader udah terlanjur belok kanan arah Cibinong, maka kami pun harus mengikuti.
Cuaca agak mendung ketika kami sampai di Cibinong, lalu lintas juga cukup padat membuat kami sering terpisah dari rombongan. Selepas kemacetan, kami regrouping kembali, cuman disini ternyata Bambang Wahyudi tidak kunjung terlihat, setelah menunggu 10 menit kami mendapat kabar ternyata dia ditilang polisi karena menerobos lampu merah. 50 ribu pun dia sumbangkan kepada polisi untuk ongkos pulang setelah bertugas sekaligus untuk ongkos beli peta, agar dia tau bahwa Takengon adalah nama kota di Aceh, bukan di Kalimantan Barat. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Memasuki Bogor, 09.30 hujan mulai turun, kami berhenti untuk memakai perlengkapan hujan, sepatu ganti sandal, sarung tangan off, jas hujan on, sarung hujan buat tas on. Perjalanan langsung dilanjutkan menyusuri kota Bogor menuju jalan raya Sukabumi. Selanjutnya kami menempuh jalur jalan raya Sukabumi arah Cicurug kemudian Cibadak. Jalur ini lalu lintas di dominasi oleh truk mulai dari kecil maupun besar serta angkutan umum, sehingga meskipun jalanan mulus tetap disarankan untuk menjaga konsentrasi dan mengontrol kecepatan. Sampai Cibadak 11.00 dan cuaca sudah kembali cerah. Kembali kami rehat untuk melepas perlengkapan hujan dan mengetap oli badan.
11.30 perjalanan kembali dilanjutkan. Rute yang akan ditempuh selanjutnya adalah Cibadak-Warungkiara-Pelabuhan Ratu. Estimasi waktu tempuh jalur ini adalah 1,5-2 jam. Jalanan jalur ini berbeda dengan jalur sebelumnya, dimana jalanan lebih sempit dan tidak terlalu mulus, berkelok-kelok, banyak tanjakan dan turunan. Alhamdulillah kami melewati jalur ini dalam kondisi cuaca yang cerah karena apabila hujan maka jalanan yang basah akan semakin memperlambat perjalanan kami.
Waktu menunjuk jam 13.00 ketika kami mulai masuk Pelabuhan Ratu, sadar sudah waktu nya makan siang, kami mencari-cari warung makan. Selanjutnya kami menemukan Warung Sate Barokah 2 disebelah kiri jalan. Motor pun kita parkirkan.
Menu makan siang hari itu untuk berlima adalah Sate Ayam 20 tusuk, Sate Kambing 20 Tusuk, 1 Sop Kambing, 2 Es Jeruk, 1 Teh Manis Panas, 1 Es Teh Manis,

Kurang lebih satu jam kami menghabiskan waktu untuk makan, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Cuaca masih cerah. Jalur berikut yang akan dilalui adalah Pelabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna. Waktu tempuh diperkirakan 1-1,5jam. Jalur ini dilalui dengan menyusuri pesisir pantai, sepanjang jalan kami dapat melihat pemandangan yang sangat indah, terutama pada saat kami menanjak hingga puncak bukit kami dapat melihat pantai dari atas. Subhanalloh banget dah.
Jalur Pelabuhan Ratu-Cisolok benar-benar membuat kami terlena seperti Ikke Nurjanah. Pemandangan yang bagus, jalanan berkelok-kelok, tanjakan tinggi dan turunan yang dalam membius setiap orang yang melewati nya. Hingga pada suatu turunan panjang berkelok-kelok, sdr Bambang Wahyudi yang diboncengi Yuliyanti Christine tidak dapat mengendalikan laju motornya meski sudah memakai ban Swallow yang cengkeramannya terkenal kuat. Insiden tak terelakkan. Saya yang berada jauh dibelakang mendapati mereka sudah terkapar dipinggir jalan. Kaget. Tapi Alhamdulillah tidak ada cedera serius, hanya memar dan lecet di kaki saja. Bahkan saat saya menghampiri, mereka sedang tertawa-tawa.

Sesaat setelah kejadian, ada rombongan biker dari Cianjur, sekitar 15-20 motor mungkin, ramai sekali. Mereka berhenti menghampiri dan menanyakan kondisi kami. Dirasa tidak ada yang serius dan masih bisa ditangani sendiri, kami mengucapkan terima kasih dan mempersilakan mereka melanjutkan perjalanan. Sekali lagi terima kasih buat rombongan biker Cianjur, ditempat yang jauh dari rumah dan tidak ada siapa-siapa, kami seperti punya banyak saudara.
Kejutan belum berhenti, sesaat setelah rombongan biker Cianjur berlalu, ada seorang touring biker Bajaj Fulsar terperosok pula ditempat yang sama, saya, Joko, dan Ai berlarian menolongnya, motor diberdirikan, biker terlihat masih shock. Beberapa saat setelah memulihkan kesadaraan, dia pun melanjutkan perjalanan.
Motor Mega Pro Bambang kami periksa, setang bengkok, bensin terlihat menetes, untunglah tidak jauh dari TKP ada bengkel motor. Dan ternyata, di bengkel tersebut juga sedang ada motor yang diperbaiki karena mengalami insiden di tempat yang sama. Warga sekitar mengatakan, ditempat itu kecelakaan sering sekali terjadi, bahkan sehari sebelumnya ada mobil box yang kecelakaan dan sampai memakan korban jiwa. Merinding mendengarnya seraya bersyukur tidak ada sesuatu yang buruk menimpa kami.
17.00 motor Bambang selesai diperbaiki, setelah dicoba berkali-kali motor pun siap. Kami melanjutkan perjalanan yang tinggal 30-45 menit lagi dengan lebih berhati-hati, cuman nampaknya kecepatan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Sinting.
Setelah melewati Cisolok, kami memasuki Bayah. Sebenarnya untuk masuk ke Desa Sawarna dari arah Cisolok ada pertigaan ke kiri. Namum nampaknya kami berlima melewatkan pertigaan tersebut karena memang ternyata posisinya kurang begitu terlihat. Maka ketika kami sampai di pesisir Pantai di Bayah kami bertanya ke orang sekitar dan diberitahukan bahwa kami harus putar balik dan masuk ke gerbang menuju Pantai Pulo Manuk. Gerbang ini adalah pintu masuk ke Desa Sawarna dari arah Malingping.
Jalanan masuk menuju Desa Sawarna agak lebih menyeramkan dari jalur sebelumnya. Jalur ini lebih sempit, masih naik turun, dan kiri kanan jalan merupakan hutan belantara yang cukup lebat. Ditambah langit yang sudah mulai menggelap karena jam sudah menunjuk 17.30 dan aroma khas hutan belantara, suasana makin terasa horor. Tak lama setelah melewati hutan, kami melihat ada jembatan gantung di sebelah kanan jalan. Jembatan ini adalah satu-satu nya akses untuk masuk ke Desa Sawarna. Kami pun menyeberang satu per satu.

Setelah semuanya berhasil menyeberang dengan selamat sentosa, saya mulai menanyakan lokasi penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, yaitu Homestay Widi. Informasi tentang homestay ini saya peroleh dari forum traveler kaskus. Info yang saya dapat cukup lengkap, meliputi tarif, fasilitas, bahkan sedikit riwayat hidup pemiliknya. Rumah-rumah penduduk di dalam desa kebanyakan disewakan. Model-model rumahnya ada yang khas rumah penduduk pedesaan berupa rumah panggung, adapula yang model kontrakan. Untuk homestay Widi model penginapannya mirip kontrakan per kamar, dimana posisi nya di belakang rumah utama.
Kami bertemu dengan Ibu Soliha dan Pak Ade yang merupakan suami istri pemilik homestay, setelah bernegosiasi sebentar disepakati tarif untuk kami adalah 80ribu per orang. Harga ini sudah termasuk makan 3 kali sehari. Kami menurunkan barang-barang, dan beristirahat. Jam menunjuk 18.00. Demi mengobati rasa penasaran dan sambil beristirahat, kami segera menuju pantai meskipun langit sudah mulai gelap. Jarak pantai dari homestay hanya 100meter.
Puas nongkrong dipantai, kami kembali ke homestay untuk mandi kemudian makan malam.
Minggu, 22 Januari.
Saya terbangun jam 5.00, dimana Ai dan Bambang sudah tidak ada pada tempatnya. Agenda kami hari ini adalah ke Pantai Tanjung Layar, ke Gua Lalay, trus ke Pantai Laguna Pari. Sebelum berangkat ke pantai yang pertama, terlebih dahulu minum teh dan makan gorengan yang sudah disediakan sama Bu Soliha. Nikmat.
Jarak pantai Tanjung Layar dari homestay sekitar 700meter. Bisa ditempuh dengan motor atau berjalan kaki. Kami berlima memutuskan berjalan kaki, sambil menikmati pagi di area persawahan desa. Yang unik dari pantai ini adalah adanya dua batu besar mirip layar perahu yang seolah-olah menjadi gerbang antara pantai dan laut. Airnya cukup tenang, ombak sudah terlebih dahulu pecah oleh karang.









08.00 kami kembali ke homestay untuk sarapan. Menu pagi itu adalah nasi dengan bihun goreng dan lauk telor rebus balado. Kalau masih kurang pedes, masih ada sambal khas yang level pedes nya satu tingkat lebih tinggi.
09.00 adalah waktu nya kami berangkat ke Gua Lalay. Untuk mencapai gua ini, kami harus keluar ke jalan raya, yaitu kembali menyeberang jembatan gantung kemudian berjalan kurang lebih 1km. Kami menanyakan informasi lokasi ini pada saat kami kembali dari pantai Tanjung Layar kepada dua anak kecil bermotor yang saat itu sedang menjadi guide. Nah, pada saat kami berjalan menuju ke Gua, kami kembali bertemu mereka dan kami jadikan guide kami untuk menyusuri Gua Lalay.
Dari jalan raya, kami masih harus berjalan masuk melalui areal persawahan dan kembali menyeberang jembatan gantung untuk menuju Gua Lalay. Guide kecil kami memberi tahu bahwa di dalam gua sangat gelap sehingga harus membawa senter, karena kami tidak membawanya maka salah satu dari mereka kemudian kembali untuk mengambil senter. Sebelum sampai ke Gua Lalay, kami melewati sebuah gua yang pintu masuk nya kurang terlihat. Gua ini bernama Gua Kadir, Nama Kadir adalah seorang warga desa yang masuk ke gua tersebut dan tidak kembali sampai ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Ngeri.
Sampai di mulut Gua Lalay, sandal kami tinggal. Dibawah gua terdapat sungai yang mengalir dari dalam. Kami berjalan melawan arus air untuk masuk kedalam. Makin ke dalam makin gelap dan makin licin. Di beberapa sudut gua, kami harus naik ke lantai gua untuk dapat menuju ke sudut lainnya. Lantai ini merupakan tanah basah yang sangat-sangat licin. Maka tidak heran kalau kami sangat gampang terjatuh ketika melewatinya. Nama Lalay sendiri berarti kelelawar. Mereka bertengger diatap gua disudut yang dalam.
Kami masuk ke dalam gua sampai kurang lebih 100 meter. Sebenarnya jalur penyusuran masih jauh hingga mencapai 250 meter, tetapi jalur selanjutnya jauh lebih sulit, dimana kami harus merayap menyusurinya. Mengingat kami tidak membawa peralatan dan penerangan yang cukup minim, kami tidak melanjutkan dan kembali ke luar. Retribusi untuk memasuki gua ini adalah 2ribu per orang. Sementara guide kami yang anak kecil 3 orang kami berikan 30ribu sudah termasuk ongkos senter.








11.00 kami kembali ke homestay untuk istirahat dan makan siang.
Jam 13.00, kami bersiap menuju Laguna Pari. Pantai ini jaraknya 2km dari home stay ke arah yang sama dengan Pantai Tanjung Layar. Dari pantai Tanjung Layar, kami berjalan menyusuri pantai melewati bebatuan dan karang yang membentuk formasi yang menarik. Selanjutnya kami juga harus naik ke bukit untuk menyeberang. Pemandangan dari atas bukit tidak kalah menarik. Dengan pantai yang masih sepi, sisi alami pantai ini masih sangat orisinil.















16.00 adalah waktu untuk kembali mengingat kami sudah cukup jauh menyusuri pantai. Di sebuah sudut pantai dibawah bukit arah kami datang, kami mencoba untuk melewati bibir tebing pantai. Pertimbangannya adalah, untuk kembali melewati bukit kami harus menempuh jarak yang jauh, dan kami sudah cukup lelah, sementara pada saat berangkat kami melihat rombongan yang berhasil melewati nya.
Yang luput dari perhatian kami adalah ternyata kondisi air laut sudah pasang. Di ujung tebing pantai, dimana kami diserbu ombak pasang, kami memutuskan kembali dan memutar arah untuk melewati bukit. Alasannya, kami tidak tau kondisi karang yang akan kami lewati, apakah dangkal atau dalam, salah mengambil keputusan kami bisa tenggelam dan terhempas ombak. Kami memilih untuk tidak mengambil resiko.
Badan kami terasa sudah remuk, pikiran juga sudah lelah ketika harus kembali mendaki bukit untuk menyeberang. Rasanya ingin sekali berhenti, untuk istirahat, dimanapun kami sedang berada. Bukit yang kami lalui tinggi dan licin. Dengan sisa-sisa tenaga kami berhasil melewatinya. Masih ada 1 pantai lagi yang harus kami lalui untuk bisa menuju daratan yang aman untuk pulang, tapi waktu sudah menunjuk jam 18.00. Jalanan yang kami lewati ketika berangkat sudah tertutup air laut. Hempasan ombak sangat kencang hingga ke tebingnya. Bagaimana kita pulang? Kami mencoba untuk kembali naik bukit, mencoba mencari jalan untuk pulang. Tapi hasilnya nihil. Bambang dan Ai sudah menelusuri hingga atas. Tak ada jalan.
Terpaksa kami kembali turun ke pantai, dengan air laut yang semakin meninggi. Kami berlima terduduk sesaat. Kami berdiskusi mencari cara, sementara di pantai tak ada seorang pun selain kami. Dari kejauhan batu Tanjung Layar pun sudah direndam air. Sangat berbeda dengan situasi pagi tadi, dimana-orang-orang masih bisa bermain dibawahnya.
Dua pilihan buat kami adalah, kembali menyusuri tebing pantai yang sudah pasang air nya dan kencang ombaknya, atau kembali ke bukit dan menuju ke jalan raya yang jaraknya 1 jam berjalan kaki. Saya sendiri sudah cukup lelah untuk sekedar membayangkan kembali ke bukit, ditambah dengan 1 jam berjalan kaki, sedangkan hari sudah malam.
Maka saya katakan kepada mereka teman-teman saya itu, "Gue coba dulu, nanti kalau berhasil kalian ikut, kalau tidak ntar gue balik kesini". Tidak ada yang menjawab. Kemudian saya bergegas mencoba menyeberang. Dan berhasil. Mereka menyusul. Sampai didaratan, kami bisa tertawa lagi.
18.30 kami sampai di homestay, mandi, makan malam, dan istirahat.
Perjalanan kami sampai sejauh ini luar biasa, setidaknya itu yang saya rasakan. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Pengalaman ini juga bisa membuat kami menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bersyukur. Dalam kehidupan, jalan tidak selamanya mudah, akan ada saatnya kita menemui jalan terjal, ada pula saatnya kita menemui jalan yang mulus. Ada pula saatnya kita terjatuh, tapi kita harus bangkit lagi dan berdiri lagi untuk kembali berjalan menuju cita-cita. Keluarga dan sahabat kita adalah orang-orang yang paling berharga dan akan selalu ada untuk kita dalam kondisi apapun. Maka jagalah dan jangan sia-siakan mereka.
Senin, 23 Januari, 05.00
Kami terbangun dalam cuaca hujan. Hari ini adalah waktunya kami pulang. Rencana berenang pagi pun batal karena sampai dengan kami berangkat 09.00 hujan masih belum reda. Pagi itu kami sarapan terakhir dan segera berpamitan dengan Pak Ade dan Bu Soliha yang ramah. Pesan Bu Soliha, "Jangan kapok ya main kesini".
Diiringi hujan rintik-rintik, 09.00 kami pulang ke Bekasi, membawa banyak cerita, yang akan kami berikan kepada teman-teman kami yang lain, yang mungkin kali ini belum bisa ikut bersama kami, tapi semoga bisa ikut merasakan apa yang kami rasakan.
Selesai.
Penulis : Nanang Indriyono
Sumber : https://www.facebook.com/notes/nanang-indriyono/berbagi-cerita-perjalanan-ke-sawarna/10151226244665157
Tambahan :
Joko Try Saputro ada detil yg kurang.
Swaktu membantu rider pulsar yg gubrak stelah aksi stuntman kondang.
Nanx,jopir n ai pun tak kuasa menahan hasrat ngebantu si kuda besi berdiri lg di turunan yg ckp curam. Panik motor bakal melorot,alih2 rem tangan yg diremas,malah tuas kopling yg dijepit k jari ai. Masih suka ngakak ngebayangin muka ai bilang 'jop2.. Bentar jari ai kjepit'
Arli Ramdan owh iya sekalian ai SPJ kan pengeluaran kemaren, sapa tau bisa menjadi yurispudensi bagi pembaca yg lain qiqiqiqi , :
Pemasukan :
1. iuran dana umat Rp. 200rb/orang x5 : 1.000.000
2. sumbangan stuntmen kondang : 50.000
jumlah : 1.050.000
Pengeluaran :
1. makan siang barokah 2 : 83.000
2. Penginapan 2 hari + makan : 800.000
3. Retribusi sawarna : 10.000
4. Guide gua lalay : 30.000
5. Retribusi Gua Lalay : 5.000
6. beli minum bekal di legon. Pari (mizon 2 aqua1) : 20.000
7. minum teh hangat + cemilan, penawar stres : 11.000
8. beli duren d pelabuhan ratu : 90.000
9. ada sisa ai bayarin toilet aja : 1.000
jumlah pengeluaran : 1.050.000
Saldo : 0
demikian saya sampaikan untuk diketahui,,,
cc. mba Yuliyanti Christine, bung Bambang Wahyudi, bung Nanang Indriyono n bung Joko Try Saputro,,,,
terima kasih...
Mau komen yang pas jatuh itu bang...itu jatuh yg abis puncak habibi ya?yang dari puncak bukit turuunn terus bekelok kelok tajem dan insiden jatuhnya pas kelokan terakhir?karna dri kelokannterakhir itu kebawah sedikit emang ada bengkel kecil...klo emg bener kata ane.bratibitu tempat yang sama pas dmrombongan ane jatuh juga disana.salah satu romobonhan ane sampe nabrak tembok dibelokannitu.untungnya ada tembok itu kloga ada temen ane pasti masuk kejurang....dan setekah rombonhan ane jatoh selah 40 menit ada rombongan turing 15 motor 5 motor jatoh juga ditempat yang sama.itupun karna langsung kami kasih kode dari bawah klo gak mungkin semua rombongan itu jatoh
BalasHapussalam kenal brader galih septian...
HapusIya bener banget bro, TKP nya disitu. Wah, ada teman senasib :), tapi kondisi temennya ga luka parah?...
kayaknya disitu memang rawan kecelakaan, dilihat dari kondisi jalan nya..