Senin, 14 Januari 2013

TOUR DE JAVA EIN BALIJSKI YANG TETUNDA 22 – 24 DESEMBER 2012


Petualangan kali ini merupakan dorongan batin dan panggilan alam yg sudah lama menggema di relung jiwa. Entah bagaimana keyakinan itu muncul, yang jelas terlihat Sang Maha Berkehandak sangat merestui perjalanan kali ini. Dimulai keluarny surat ijin dari ibunda tercinta, permohonan cuti yang disetujui bos, tunggangan yg selesai tepat pada waktu nya dan semua perlengakapan logistik  untuk menduukung kelancaran perjalanan sudah siap seadanya. Rencana rute yang akan dilalui serta kota yang akan dijadikan tempat transit pun sudah ditentukan.

Hari sabtu tanggal 22 Desember 2012 teriakan bunyi alarm handphone yang di set pukul 04.00 memecah kesunyian dini hari. Terbangun dari mimpi yang melenakan, sayapun segera bersiap mandi dan mengecek kembali kesiapan tunnggangan beserta perlengkapannya. Dirasa semuanya oke, saya pun bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh, ta lupa doa dipanjatkan  agar perjalanan ini diberikan kelancaran dan keselamatan oleh Nya.

Pukul 05.13 waktu indonesia bagian kayuringin raungan dan putaran roda mulai membelai lembut aspal bekasi yang sedikit basah sisa hujan semalam. Menuju pom bensin di Jl. Kartini, karena lambung “megi” belum terisi bahan bakar penuh. Sempat berfikir untuk balik kanan ketika mengetahui kondisi tangki motor yang rembes dikarenakan tidak sempurnanya lasan di bagian sambungan tangki bensin. Namun sesuai motto nenek moyang kita “sekali layar terkembeng, pantang raga berpulang”, perjalanan pun kembali diteruskan

di kosan, sebelum keberangkatan



Pukul 06.03 tiba di cikarang, selain untuk mengisi perut momen ini pun saya manfaatkan untuk napak tilas mengingat kepingan-kepingan peristiwa yang telah dilewati kurang lebih selama 6 tahun. Diputuskan menu sarapan pagi ini adalah bubur, karena sudah lama saya tidak merasakan kelezatan bubur jablay, yang rasanya tidak jauh berbeda dengan bubur Haji Sulam. Saya pun tak tahu bagaimana cerita nya bubur ini dinamakan bubur jablay, untuk warga jababeka dan sekitar nya mungkin sudah tidak asing lagi dengan kelzatan bubur jabalay, bubur yang disajikan dengan rempah2, taburan kerupuk dan daging ayam yang melimpah seakan berkokok di sela-sela gigi. Suasana cikarang tidak banyak berubah semenjak saya meninggalkan, tetap hangat dan bersahabat seperti dahulu.

Pukul 06.30 mengingat masih panjang perjalanan yang akan ditempuh, segera kaki ini beranjak menuju tunggangan yang sudah menunggu di parkiran. Tidak banyak hal yang menarik sepanjang jalan cikarang-karawang-cikampek-patokbesi-ciasem-pamanukan-losarang-indramayu-jatibarang-arjawinangun-plumbon-cirebon, karena relatif track jalan lurus mulus hanya ada sebagian bagian jalan yang berlubang tapi ta seberapa, lancar ga macet alhamdulillah. Hanya ada sedikit perasaan  was-was dikarenakan kondisi tangki yang bocor, dikhawatirkan kehabisan bensin tanpa ane sadari yang imbasnya bakalan ada acara dorong-mendorong.

Pukul 11.30 touchdown di kota Cirebon, inilah kali kedua saya menghirup hangatnya udara cirebon. Teriakan para cacing menggema di sepanjang usus kecil dan usus besar yang tak kalah nyaring dengn teriakan para demonstran, meminta asupan gizi untuk memulihkan tenaga dan stamina. Segera pandangan saya fokuskan untuk mencari tempat makan yang enak dan nyaman sekalian istirahat sejenak melonggarkan otot dan persendian yang tegang. Hati saya jatuh di salah satu tempat makan nasi jamblang di seputaran jalan jamblang, tempat nya bersih dan tampak ramai pengunjung. Benar saja makanan ayng disajikan sangat enak 2 nasi jamblang + daging + dadar telor+sambal + teh manis panas yang di mix dengan tolak angin, alhasil bablas angine.

nasi jamblang, cirebon



Pukul 12.30 setelah lelah musnah dan kantuk pun punah, segera kaki ini melangkah menuju parkiran untuk meneruskan perjalanan. Sampe Losari berhenti di pom bensin karena kuda ane dah haus, sekalian istirahat sejenak sambil menikmati suasana losari yang cerah. Sepanjang perjalanan Cirebon – Losari ta ada halangan yang berrti, kondisi jalan masih lurus dan mulus. Melewati batas propinsi Jawa Barat n Jawa Tengah ane berhenti sejenak untuk sekedar mengambil foto sebagai bahan dokumentasi. Melewati kota brebes sebelum  tegal mengalami kemacetan cukup panjang dikarenakan ada perbaikan jembatan, sehingga aparat terkait menerapkan sisten buka tutup jalan. Selain macet kondisi jalanan disini rusak sehingga membutuhkan konsentrasi penuh untuk menghindari lubang-lubang di jalan.

losari



batas propinsi



Sampe di kota tegal berhenti sejenak seperti biasa sedikit jeprat-jepret untuk dokumentasi. Melewati kota Tegal tapi lupa apa nama daerah nya, disini jalananny sedikit bergelombang dan agak berlobang. Tiba di suatu daerah sebelum Pemalang tiba-tiba laju motor ane tersendat-sendat rupanya motor ane kehausan gan. Ketika ane mau mampir di pom bensin terdekat, ta di duga ta disangka ane bru menyadari kalau kunci motor yang satu set dengan kunci tangki sudah tidak ada di tempat peraduannya, alhasil tanpa kunci itu ane ga bisa isi bensin. Mencoba untuk tidak panik, dengan berbagai pertimbangan ane memutuskan daripada putar arah nyari kunci yang ilang jatuh entah dimana lebih baik nyari bengkel terdekat yg bisa mereparasi atau memberikan solusi atas apa yang terjadi.

Tibalah ane di satu bengkel, setelah ane menjelaskan masalahnya beliau bisa mengusahakan untuk kunci kontaknya tapi untuk kunci tangki bensin beliau tidak bisa berbuat banyak. Namun ketika sang montir sedang berusaha untuk mengakali membuka tangki bensin, Alhamdulilah kunci kontak ma kunci tangki ketemu tersankut di bawah tangki, ane bersyukur banget gan. Ketika akan beranjak dari bengkel, langit yg sedari tadi mendung pun ta kuasa menahan beban air yang sedari tadi siang ditanggungnya, hujan pun turun. Jas hujan on, cover bag on, cover sepatu on (meminjam istilah brow nanang di salahsatu catper nya) perjalanan pun dilanjutkan. Tapi memang sang Maha Berkehendak tidak menginginkan perjalnan ini lancar2 aja, motor tiba-tiba berhenti,,, abis bensin gan. Ta ada yang jual bensin eceran di jalan ini, setelah bertanya-tanya alhamdulillah di depan ada pom bensin terdekat. Acara dorong motor pun berlangsung selama 50m, cukup memansakan tubuh dari dinginnya cuaca akibat hujan yang turun cukup lebat.

Melewati Kota Pemalang-Pekalongan-Batang, sekitar pukul 18.00 ane tiba di jalur alas roban. Dari kejauhan sudah mulai terlihat dan terbayang beratny  jalur yang akan dilewati, benar saja lebat nya hutan jati dalam pekat nya malam diiringi hujan yang sejak dari pemalang dengan setia mengikuti cukup membuat nyali ini menciut, ditambah kondisi jalan yang berkelok, naik – turun dan bergelombang apalagi kendaraan yang melewati jalur ini ukuran nya gede-gede banget gan seperti truk gandeng, bis, tronton dkk, ane yang memakai motor seperti seekor remora di tengah sekumpulan hiu dikedalamam samudera yang luas. Kurang nya mencari informasi mengenai medan yang akan ditempuh, membuat jalur alas roban ini di luar perkiraan ane, ane kira jalur pantura itu lurus-lurus aje gan, sehingga sangat diperlukan konsentrasi yang tinggi untuk melewati jalur ini.

Alhamdulillah melewati alas roban dengan selamat, tiba di kota kendal karena badan sudah lelah dan cape sempet berfikir untuk bermalam di kota ini, namun ketika melihat papan petunjuk jalan kalo kota semarang tidak jauh lagi ane memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Sebelum memasuki kota semarang ane lupa daerah nya apa terjadi kemacetan yang panjang hingga memasuki kota semarang, tidak diketahui apa yang menjadi penyebab kemacetan tersebut, apakah dikarenakan hujan yang mengguyur, atau kondisi jalan yang tidak bersahabat, atau memang volume kendaraan yang memasuki  kota semarang memang sedang banyak-banyak nya. Pukul 20.00 ane tiba di kota Semarang, walaupun kondisi macet namun tidak menyurutkan ane untuk sekedar berkeliling menelisik tiap sudut kota sambil mencari penginanapan. Menikmati eksotisme semarang di malam hari melewati Tugu, tawang sewu, dan parapatan lima sangat indah, namun sayang karena kondisi hujan dan ane pun sudah cape niat untuk wisata kuliner di sepanjang prapatan lima ane tunda sementara.

Mencari lokasi penginapan yang murmer dari forum backpacker agak sulit juga, sampai dengan jam 21.00 ane belum menemukan penginapan yang pas. Setelah berputar-putar sekian lama dan mengingat kondisi fisik yang sudah melemah ane memutuskan untuk menginap di penginapan yang ada saja yang terlewati seketemunya. Pukul 21.15 check in langsung bersih-bersih perlengkapan seperti jas hujan, cover bag dkk yang penuh lumpur dan ta lupa  mandi air hangat. Sekitar pukul 22.00 merebahkan badan di kasur sambil sekilas menonton televisi, entah karena efek samping tolak angin yang over dosis atau tidak ada teman yang menemani atau pikiran yang melayang mata ini sulit sekali terpejam. Berita televisi yang mengabarkan salah satu kecelakaan di jalur pantura mengingatkan ane sama ibunda tercinta. Ane mengalami kegalauan tingkat dewa gan, wajah ibunda ane tergambar jelas di setiap sudut kamar seolah memanggil ane untuk segera pulang. Bimbang diantara harus meneruskan perjuangan mencri kitab ke timur atau balik pulang ke barat. Segera ane sambar hape yg sedari tadi ane cas di pojok kamar,  ane coba diskusikan dengan para sesepuh dan hulubalang di negeri cah kangkung via whats up, setelah diskusi yang sangat alot dan beberapa pandangan dan pertimbangan dari sesepuh ane memutuskan untuk balik kanan memutar haluan kembali pulang ke alam nya, alhasil ane baru bisa tidur sekitar jam 03.00.

Hari Minggu pukul 06.15 walaupun masih ngantuk ane paksain beres-beres semua perlengkapan bersiap untuk meneruskan perjalanan pulang ke bandung. Untuk perjalana pulang ane tidak mempersiapkan jalur mana yang akan ditempuh karena ini memang dilaur perencanaan. Namun sedikit mendengar cerita kalau jalur selatan yang berkelok dan dihiasi hijaunya pegunungan  lebih menarik daripada jalur utara yang monoton, ane memutuskan untuk melewati jalur selatan lewat Yogyakarta. Pukul 07.00 setelah mengisi perut ane berangkat dari penginapan, mampir sebentr di tugu untuk sedikit jeprat-jepret dan menikmati hangat nya mentari Semarang. Kendati hati masih belum ingin untuk beranjak pergi, namun mengingat perjalanan yang masih panjang terpaksa rencana untuk menikmati kota tua dan mencicipi kuliner di simpang lima ane lewatkan begitu saja.

tugu, semarang



Lawang Sewu, Semarang



Setelah mempelajari medan yang akan dihadapi dan jalur yang akan dilewati di GPS, hari minggu pukul 08.00 secara resmi kami meninggalkan kota semarang. Menuju Yogyakarta dari Semarang bergerak ke arah selatan melewati Unggaran disini kondisi jalanan mulai padat merayap, banyak bus dan minibus yang berdesakan menuju ke arah yang sama. Lewati Unggaran, sekian lama melaju tibalah kami di Ambarawa. Ane ga tau kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Ambarawa, yang jelas hati ini sudah terpaut dengan suasana kota nya. Tiba di Magelang, ane melwatkan kesempatan untuk mampir ke Borobudur. Jalur Semarang – Yogyakarta mungkin akan menjadi jalur favorit yang sayang kalau dilewatkan. Jalanan yang sangat mulus, tikungan yang tidak terlalu ekstrem dan tanjakan-turunan yang tidak terlalu curam, sehingga ane bisa menikmati baik itu track nya sekaligus hijaunya pemandangan alam dikiri-kanan jalan  yang disajikan oleh Sang Maha Pencipta.

Hari minggu sekitar pukul 11.30 tiba di Sleman, disini jalan sudah cenderung lurus. Dikarenakan jalanan Sleman mulai padat merayap dan cacing di perut sudah minta jatah, ane mutuskan untuk istirahat sambil makan siang di salah satu RM Padang yang ada di sekitaran jala Sleman. Menu nya sihtak ada yang berbeda dengan RM padang seperti yang lainnya, tapi disini aneh nya kita harus mengambil sendiri makanan nya, baik itu lauk nya lalapannya dan kuah nya, istilah keren nya Self Assesment. Menu yang ane pilih Nasi+rendang+teh manis panas ta lupa ane mix dengan 2 sachet Tolak Angin, orang pintar minum tolak angin. Perut kenyang kantuk pun datang, maklum efek samping baru tidur jam 03.00 subuh. Pukul 11.30 perjalanan pun kembali dilanjutkan, ta patah arang walaupun macet menghadang.

jalur ambarawa - yogyakarta



jalur ambarawa-yogyakarta



Pukul 13.30 ane tiba di Yogyakarta, ane memutuskan untuk istirahat sehari di kota ini dengan pertimbangan : 1. Kalo ane teruskan ke bandung kemungkinan besar ane tiba di Bandung malam hari atau bahkan mungkin dini hari, 2. Badan dah capek dengan rasa kantuk yang ta kuasa ane tahan, ingin segera mata ini terlelap, 3. Setelah ane melewatkan menikmati kota tua semarang dan Borobudur untuk kesempatan kali ini ane ga mau melewatkan kesempata utuk menikmati kehangatan kota Yogyakarta. Agak susah mencari penginapan yang kosong karena bertepatan dengan libur panjang, sehingga sebagian besar penginapan disini sudah penuh semua. Setelah beberapa lama berkeliling mencari penginapan yang kosong, ahirnya dapet juga tempat bernaung di daerah Malioboro tepat nya di Jl. Dagen. Pukul 14.00 cek ke dalam, beres-beres perlengkapan, mandi ganti baju, posisi badan pun sudah pada posisi nya diatas kasur, ta lama kemudian secara perlahan pandangan mulai meredup,,meredup,,meredup,dan ruangan pun menjadi gelap.

Pukul 17.30 alhamdulilla ane masih diberi kesempatan oleh sang Maha Pencipta untuk membuka mata dan menikmati dunia yang fana ini. Setelah masa hibernasi yang tidak terlalu panjang terlewati, kondisi badan menjadi segar bugar namun diiringi suara musik keroncong yag berasal dari penampilan kreatif dari para cacing yang ada di usus besar.

Setelah beres menyampaikan laporan rasa syukur atas semua yg telah diberikan sampai dengan hari ini kepada Sang Maha Pencipta, sekitar pukul 18.35 ane mulai bergerak menelisik setiap sudut jalanan Malioboro. Syahwat untuk mencicipi kuliner Yogya pun sudah ta tertahankan, melihat salah satu temapat makan yang lumayan rame, ta menungggu lama kaki melangkah menuju kesana. Bingung memilih makanan di menu yang tampak menggoyang lidah ini, ahirnya saya memutuskan untuk mencoba nasi gudeg + ayam + teh manis panas di mix 2 sachet tolak angin. Luar biasa, gudeg nya itu lho,,jangkrik, uenak tenan re!!...bahkan ane mendapat sms dari salah satu penghuni usus besar, isi nya cukup singkat jelas dan padat “mantabs brow!!!”.

Dirasa tubuh sudah mendapat asupan gizi yang cukup, sekitar pukul 19.22 beranjak dari tempat makan tersebut dari jl. Dagen belok kiri mulai menelusuri sepanjang Jl. Malioboro. Inilah untuk kedua kalinya saya menjejakan kaki di bumi yogyakarata. Waktu itu tahun 1995 ketika saya masih kelas 1 smp ta banyak yang bisa saya ingat, sehingga saya ta bisa merasakan perubahan apa yang terjadi dalam kurun waktu sekitar 17 tahun.

Secara perlahan namun pasti saya menelusuri jallanan ini ke arah statsuin tugu. Tak ingin melewatkan semua momen yang dialami, sengaja saya berjalan tidak terburu-buru menembus kerumunan pengunjung malioboro yang berjalan hilir mudik ditengah para pedagang yang mengais rejeki di malam liburan yang panjang ini. Beragam aktifitas yang menggerkan roda ekonomi di jalan ini ada penjual kaos, batik, souvenir, makanan, becak dan delman yang menawarkan jasa keliling kota yogyakarta, pengamen jalanan dengan kreatifitas nya masing yang unik semua nya membaur menjadi satu secara tertib sehingga walaupun kondisi sangat ramai tapi suasananya tetep nyaman aman dan tenteram. Tak lupa saya membeli buah tangan untuk keluarga di rumah, barang-barang yang dijual disini harganya cukup terjangkau tidak terlalu mahal. Mohon maap kepada saudara, handai taulan dan teman-teman tercinta yang tidak saya bawakan oleh-oleh, dikarenakan terbatasnya kapasitas bagasi dan APBN (^^v).

Setelah sekian lama berjalan ahirnya sampailah saya di Statsiun Tugu, bingung mau kemana lagi ahirnya saya memutuskan untuk menikmati sensasi keliling Yogya dengan memakai becak. Setelah negosiasi yang kurang alot, disamping saya tidak fasih berbahasa jawa juga kurang pandai dalam tawar menawar harga, disepakati lah harga dan rute yang akan dilewati. Becak melaju membelah pekatnya malam melewati benteng vredeburg, sayang nya saya tidak sempat berhenti untuk mengambil barang satu atau dua jepret foto. Berhenti di toko bakpia yang sangat ramai, beli beberapa dus untuk sekedar oelh-oleh cemilan dirumah. Kemudian tancap gas melaju melewati keraton, sayang saya pun tidak sempat mengambil foto karena memang kalau malam hari kurang bagus penampakan nya. Melewati kaos dan ahirnya saya sampai lagi di kembalikan lagi di Jalan Malioboro. Pengalaman menarik yang saya alami di sepanjang wisata becak ini adalah, penarik becak nya yang bernama pa beni bukan orang yogayakarta tetapi orang cimahi, kontan saja spanjang perjalanan kami mengobrol dengan bahasa Sunda. Semakin kagum dengan orang indonesia, yang tadinya pa beni berbahasa logat jawa medok, ketika tahu saya orang sunda logat nya berubah menjadi logat sunda yang ta kalah medok, mantabs,, semakin cinta sama indonesia.

malioboro



terlalu ganteng untuk menarik becak



pa beni





Tak ingin malam ini erlalu begitu saja, setelah selesai keliling naik becak mata saya terpaut disalah-satu sudut jalan dimana ada penampilan pengamen jalanan yang unik. Penampilan grup pengamen denagn alat musik arumba dan perkusi serat penari latar yang menari ala almarhum michael jackson sangat menghibur para pengunjung. Malam semakin larut dan lelah melanda, setelah sekian lama menikmati pertunjukan seni yang tesaji, memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat karena perjalanan esok hari masih panjang. Di tengah perjalanan menuju penginapan, ada angkringan yang masih buka, segelas susu jehe menutup rangkaian kuliner malam itu, nikmaaat, alhamdulillah.

menikmati tarian dari sang titisan almarhum kang jacko



kasih sayang,,,



menikmati susu jahe di angkringan,, uenak tenan



Pukul 22.00 tiba di penginapan, seperti pesan bunda sebelum tidur untuk tidak lupa cuci tangan cuci, cuci kaki dan gosok gigi, ganti baju lansung terjun menyelam dikedalaman samudera mimpi dengan segala keindahan yang tersaji didalamnya.

Pukul 07.00 setelah semua perlengkapan selesai packing dan terasa tidak ada yang tertinggal, saya meninggalkan penginapan. Suasana pagi di Malioboro tidak kalah seru dengan suasana malam nya, banyak penjual yang menjajakan makanan untuk sarapan. Saya menyempatkan sarapan, sarapan kali ini adalah bakmay. Ini untuk pertamakalinya saya makan bakmay, nasi yang dicampur kuah bakso dengan ditaburi daging ayam, lumayan enak. Tidak terburu-buru beranjak, mencoba menikmati kehangatan susana malioboro yang terahir kalinya sebelum saya meninggalkan kota Yogyakarta.
Untuk menggambarkan suasana kota Yogyakarta mungkin akan membutuhkan ratusan halaman bahkan cerita saya pun tidak cukup untuk melukiskannya. Suasananya yang hangat, penduduk nya yang ramah, egaliter, kota nya yang bersih, rapih, tertib, aman tenteram, bahkan pa beni sendri yang sudah lama tinggal di cimahi menurut pengakuan nya masih betah tinggal di Yogyakarta. Semalam di Yogyakarta seakan jiwa ini menemukan kembali habitatnya, yang membuat semakin takjub, saya masih bisa merasakan suasana dalam lagu Yogyakarata milik Kla project yang diciptakan di awal tahun 90 an. Mungkin sensasi yang saya rasakan juga dirasakan pula oleh Kang Doel Sumbang sehingga terciptalah lagu yang berjudul Malioboro.


malioboro di pagi hari



Sekitar pukul 08.10 ketika mentari sudah mulai mengeluarkan terik nya, dengan langkah dan berat ane meneruskan perjalanan. Ternyata “Megi” masih betah tak ingin segera beranjak, karena susah sekali mengaum. Cukup lama “megi” ta kunjung bersuara, namun dengan sedikit usaha bujukan dan gelitikan di sekitar karburatornya ahirnya megi pun menyerah, terdengar auman nya yang menggelegar menandakan “megi” siap menggilas aspal Yogyakarata – Bandung.
Tidak ada hal yang menarik ketika perjalanan pulang. Melalui Jalur Yogyakarta - wates – bagelen, kondisi jalannya bagus, mulus kosong sehingga motor bisa dipacu cukup kencang. Tiba di Kbumen jalanan sudah mulai kurang bersahabat banyak jeraway kurang mulus. Sampai di Banyumas tengah hari mampir di peristirahat utuk mengisi perut dan menuntaskan dahaga “Megi” yang sedari tadi sudah kehausan. Dari Banyumas samapi Majenang kondisi jalan tidak banyak berubah.

Pukul 15.30 tiba di perbatasan propinsi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah yaitu di Kota Banjar, ane disambut dua macan yang berdiri di gerbang kota, seakan berkata “welcome home bray, sampurasun, wiludjeung sumping ka lemah cai”. Niat untuk istirahat di kota Banjar ane batalkan selain saya sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah, langit banjar sudah diliputi awan kelabu sedang di langit tasik dan sekitarnya masih cerah, sehingga saya mencoba mengejar momen tersebut agar tidak kehujanan. Alhamdulillah dari Yogyakarata sampai Tasikmalaya ta turun hujan, sehingga perjalanan sangat lancar. Namun di malangbong turun hujan sampai Nagreg. Ta ada yang hal yang menarik di sepanjang jalan banjar – Nagreg. Namun dengan kondisi jalan yang relatif kosong, ane sangat menikmati semua kelokan, tanjakan dan turunan yang disajikan alam, rasa nya seperti candu.

Setelah melewati perjalanan yang panjang ahirnya Hari Senin pukul 19.20 ane  tiba di rumah ane di bandung dengan selamat sentosa ta kurang satu pun, palagi ketika senyum hangat ibunda menyambut kedatangan ane, kontan saja lelah yang sedari tadi bergelayut hilang sudah. Rasa syukur tak hentinya ane panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan.

Sekapur Sirih Sebagai Yurispudensi :
1.     Bagi agan-agan yang berniat melakukan petualangan secara solo karier, jangan khawatir ketika kita sudah di jalan kita akan banyak menemukan saudara seperjuangan. Terbukti selama perjalanan banyak saudara seperjuangan yang bertegur sapa dengan membunyikan klakson atau melambaikan tangan ketika berpapasan. Seperti menemukan oase baru di tengah padang pasir. Namun, walau bagaimanapun juga perjalanan secara boys band itu lebih baik.
2.     Hambatan-hambatan yang terjadi selama di perjalanan seperti tangki bocor, kunci kontak dan tangki yang hilang, kehabisan bensin kita anggap sebagai bunga-bunga nya kehidupan yang memperindah perjalanan yang sepi ini supaya lebih berwarna. Jadi jangan khawatir dengan hambatan yg mungkin terjadi, yang bisa kita lakukan hanya tindakan perventif saja.
3.   Total jarak yang ditempuh :
a)         Bekasi – Cirebon                  =         228   Km
b)        Cireboni – Semarang            =         234   Km
c)         Semarang – Yogyakarta      =         128   Km
d)        Yogyakarta – bandung         =         403   Km
                           Total                     =         993   Km            
4.     Total waktu perjalanan :
Perjalanan Pergi :
Bekasi – Cirebon         : 05.13 – 11.30
Cirebon – Semarang   :  12.30 – 20.00
Sebenernya waktu tempuh ini diluar perkiraan, kalau perkiraan semula hasil pantauan dari google map seharus nya ane nyampe Semarang paling lama jam 17.00. Entah karena ane kurang cepat memacu tunggangan ane (ga ada speedometer) or sering berhenti di pombensin (ga ada indikator bensin) or kendala non teknis lainnya seperti macet, jalan yg tidak mulus n perbaikan jembatan sehingga sampe molor +/- 3 jam.
Perjalanan Pulang
Semarang – Yogyakarta   : 08.00 – 13.30
Yogyakarta – Bandung     : 08.00 – 19.00
Perjalanan tidak banyak kendala yang berrti selain cuaca cerah juga kondisi jalan sebagian besar mulus dan lancar, sehingga waktu tempuh tidak meleset jauh dari yang diperkirakan.
5.     Total Pemakaian Bahan Bakar :
Bekasi – Semarang      : -/+ 20 liter
Semarang – Yogya       : ane sempet isi lagi 2 liter
Yogyakarta – Bandung : -/+ 15 liter
Berhubung tangki ane rembes dan ane ga ada indikator bensin nya, mungkin data ini belum bisa dijadikan acuan. Tapi inilah kondisi real yang ane alami.

Sehubungan ane nubi dalam membuat catatan perjalanan, oleh karena itu ane mohon maaf kalo ada pemilihan kata yg tidak sesuai EYD, diksi yang kurang tepat, kerangka karanagan yang tidak berstruktur, induk paragraf dan anak paragraf yang tidak jelas, cerita yang terlalu bertele-tele atau ada penulisan gelar yang salah, dan kesalahan2 lain baik yang ane sadari maupun tidak ane sadari. ane mohon maap yang sebesar-besar nya.. ^^
Semoga tulisan ini bermanfaat,,,  Wassalam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar